(Pengantar): yang menunjukkan makna menunjukkan apa yang ditetapkan untuknya secara ; menunjukkan bagiannya, jika ia punya bagian, secara ; dan menunjukkan apa yang menyertainya dalam akal secara ,
seperti “manusia”: ia menunjukkan “hewan yang berpikir” secara , salah satu dari keduanya secara , dan “yang mampu menerima ilmu dan keterampilan menulis” secara .
الحمدُ للهِ الواجبِ وجودُهُ، المُمتنعِ نظيرُهُ، المُمكنِ سواهُ وغيرُهُ، الصَّادرِ باختيارهِ شرُّهُ وخيرُهُ، والصلاةُ والسلامُ على رسولهِ مُحمّدٍ الذي انتشرَ به نهيُهُ وأَمرُهُ.
أمَّا بعدُ: فإنَّ كتابَ الشيخ الإمام قدوةِ الحكماء الراسخين أثيرِ الدينِ الأبهريِّ طيَّبَ اللهُ ثراه وجعل الجنة مثوَاه المشهورَ بإيساغوجي، لمَّا كان على بعض الإخوان مُتعسِّراً، وعلى بعضِهم مُتيسِّراً، أردتُ أن أكتبَ بالتماسهم أوراقاً لِتُزيلَ تعسّرهُ، وتُعمِّمَ تيسّرهُ، واللهُ خيرُ الميسّرين والموفّقين
Segala puji bagi Allah, yang wajib wujud-Nya, yang mustahil ada yang serupa dengan-Nya, dan selain-Nya hanyalah mumkin (mungkin ada dan mungkin tidak); dengan ikhtiar (pilihan)-Nya muncul keburukan dan kebaikan. Shalawat dan salam atas Rasul-Nya, Muḥammad, yang melaluinya larangan dan perintah-Nya tersebar.
Amma ba'du: kitab karya syaikh dan imam, teladan para ahli hikmah yang mendalam ilmunya, Athīr al-Dīn al-Abharī (semoga Allah mengharumkan kuburnya dan menjadikan surga tempat kembalinya), yang terkenal dengan nama , terasa sulit bagi sebagian saudara dan mudah bagi sebagian yang lain. Maka, atas permintaan mereka, aku ingin menulis beberapa lembar untuk menghilangkan kesulitannya dan meratakan kemudahannya. Allah adalah sebaik-baik yang memberi kemudahan dan taufik.
قالَ: إيساغوجي: اللفظُ الدالُّ على تمامِ ما وُضِعَ له بالمُطابقةِ، وعلى جُزئِهِ بالتضمُّن إن كان له جزءٌ، وعلى ما يُلازمه في الذِّهن بالالتزام كالإنسان، فإنه يدلُّ على الحيوان الناطقِ بالمطابقةِ، وعلى أحدِهما بالتضمُّن، وعلى قابلِ العلم وصنعةِ الكتابة بالالتزام
أَقُولُ: إنَّ للمنطقيين اصطلاحاتٍ يجبُ استحضارُها على المبتدئ إذا أرادَ أن يشرعَ في شيءٍ من العلوم، ومنها إيساغوجي، وهو لفظٌ يوناني يُرادُ به الكلياتُ الخمسُ، وهي الجنسُ، والنوعُ، والفصلُ، والخاصَّةُ، والعرضُ العامُّ، وهذه يتوقَّفُ معرفتُها على بيانِ الدِّلالات الثلاث، وهي المطابقةُ، والتضمُّنُ، والالتزامُ، وأقسامِ اللفظِ. والدِّلالةُ هي كونُ الشيء بحالةٍ يلزمُ من العلمِ به العلمُ بشيءٍ آخرَ، الأولُ: هو الدالُّ، والثاني: هوالمدلول.
فمن هذا عرفتَ أن الدليلَ هو الذي يلزمُ من العلمِ به العلمُ بشيءٍ آخرَ، وكذا عَرفتَ أنَّ المدلول هو الذي يلزمُ من العلم بشيءٍ آخرَ العلمُ به، والدِّلالةُ تنقسمُ إلى أقسامٍ ثلاثةٍ: طبعيةٍ وعقليةٍ ووضعيةٍ، فالدِّلالةُ الطبعيةُ أن تكونَ بحَسْبِ اقتضاء الطَّبْع كدلالةِ أح أُح على وجع الصدر، فإن طبعَ اللافظ يقتضي التلفُّظَ به عند عُروض الوجع، والدلالةُ العقليةُ أن تكون بحَسْبِ اقتضاء العقل كدلالة لفظ دَيزٍ المسموع من وراءِ الجدار على وجود اللافظ، والمرادُ من الدلالة ههنا الدلالةُ اللفظيةُ الوضعيةُ التي تكون بحَسْبِ وضع اللفظ الدال على المعنى وهي ثلاثةُ أقسامٍ، لأن اللفظَ الدالَّ على المعنى لا يخلو من أن يدلَّ على تمام ما وُضِعَ له، أو يدلَّ على جزءِ ما وُضِعَ له، أو يدلَّ على ما يُلازمه في الذهن، فإن كان الأولَ فالدلالةُ دلالةٌ بالمطابقة، وإن كان الثاني فالدلالةُ دلالةٌ بالتَّضمن، وإن كان الثالثَ فالدلالةُ دلالةٌ بالالتزام، مثالُ الدلالة بالمطابقة كالإنسان فإنه يدلُّ على الحيوان الناطق بالمطابقة لكونه تمامَ ما وضع له الإنسانُ، وإنما سُمِّيتْ هذه الدلالةُ مطابقةً، لأن اللفظَ موافقٌ لتمام ما وضع له، وذلك مأخوذٌ من قولهم طابقَ النعلُ بالنعلِ إذا توافقتا، ومثالُ الدلالة بالتضمُّن كالإنسان إذا دلَّ على أحدهما أي على الحيوان أو على الناطق، وإنما سُمِّيت هذه الدلالةُ تضمُّناً لأنه يدلُّ على الجزء الذي في ضمنه، ومثالُ الدلالة بالالتزام كالإنسان إذا دلَّ على قابل العلم وصنعة الكتابة، وإنما سُمِّيت هذه الدلالةُ بالالتزام، لأن اللفظَ لا يدلُّ على كل أمرٍ خارجٍ عنه، بل يدلُّ على الخارجِ اللازمِ له في الذهن، وإنما قيَّد قوله على ما يلازمه بقوله في الذهن، لأن الملازمةَ الخارجيةَ لو جُعلت شرطاً لم تتحقَّق دلالةُ الالتزام بدونها لامتناع تحقُّق المشروط بدون تحقق الشَّرطِ، واللازمُ باطلٌ فكذا الملزومُ، لأن العدم كالعمى يدلُّ على الملكة كالبصر التزاماً، لأنَّ العمى عدمُ البصرِ عمَا من شأنِه أن يكون بصيراً مع أَنَّ بينهما معاندةً في الخارج، لا يقالُ هذه الدلالةُ تضمنيةٌ، لأنا نقولُ: العمى عبارةٌ عن عدمٍ مضافٍ إلى البصر فيكون البصرُ خارجاً عنه فيمتنعُ أن يكون دلالةً تضمنيةً.
Para memiliki istilah-istilah yang wajib dihadirkan dalam benak oleh seorang pemula jika ia hendak mulai mempelajari suatu ilmu. Di antaranya adalah , sebuah kata Yunani yang dimaksudkan dengannya khams (lima kulli), yaitu , , , , dan . Mengenal kelima hal ini bergantung pada penjelasan tiga , yaitu , , dan , serta pembagian . Dalalah adalah keadaan sesuatu yang sedemikian rupa sehingga mengetahuinya menuntut diketahuinya sesuatu yang lain. Yang pertama disebut dall (yang menunjukkan), dan yang kedua madlul (yang ditunjukkan).
Dari sini engkau tahu bahwa dalil adalah sesuatu yang, dengan mengetahuinya, sesuatu yang lain pasti ikut diketahui; demikian pula engkau tahu bahwa madlul adalah sesuatu yang pasti diketahui karena diketahuinya sesuatu yang lain. Dalalah terbagi menjadi tiga macam: thab'iyyah (karena tabiat), 'aqliyyah (karena akal), dan (karena wadh'). Dalalah thab'iyyah adalah yang terjadi karena dituntut oleh tabiat, seperti ucapan “uh uh” yang menunjukkan sakit di dada: tabiat orang yang mengucapkannya menuntutnya mengucapkan itu ketika rasa sakit datang. Dalalah 'aqliyyah adalah yang terjadi karena dituntut oleh akal, seperti lafazh “dayz” yang terdengar dari balik tembok, yang menunjukkan adanya orang yang mengucapkannya. Yang dimaksud dengan dalalah di sini adalah dalalah lafzhiyyah wadh'iyyah, yang terjadi karena lafazh itu telah ditetapkan untuk menunjukkan makna. Ia ada tiga macam, sebab lafazh yang menunjukkan makna pasti menunjukkan seluruh apa yang ditetapkan untuknya, atau menunjukkan bagian dari apa yang ditetapkan untuknya, atau menunjukkan apa yang menyertainya dalam akal. Jika yang pertama, dalalahnya adalah dalalah muthabaqah; jika yang kedua, dalalah tadhammun; dan jika yang ketiga, dalalah iltizam. Contoh dalalah muthabaqah adalah “manusia”: ia menunjukkan “hewan yang berpikir” secara muthabaqah, karena itulah seluruh apa yang ditetapkan untuk lafazh “manusia”. Dalalah ini dinamai muthabaqah (kesesuaian) karena lafazh itu sesuai dengan seluruh apa yang ditetapkan untuknya. Nama ini diambil dari ungkapan orang Arab “thabaqa an-na'lu bin-na'li” (sandal itu pas dengan sandal), yang diucapkan bila keduanya sama persis. Contoh dalalah tadhammun adalah “manusia” ketika menunjukkan salah satu dari keduanya, yaitu “hewan” atau “berpikir”. Dalalah ini dinamai tadhammun (cakupan) karena lafazh itu menunjukkan bagian yang ada di dalam cakupan (dhimn) maknanya. Contoh dalalah iltizam adalah “manusia” ketika menunjukkan “yang mampu menerima ilmu dan keterampilan menulis”. Dalalah ini dinamai iltizam (kelaziman) karena lafazh itu tidak menunjukkan segala hal yang berada di luar maknanya; ia hanya menunjukkan hal di luar makna yang (selalu menyertai) makna itu dalam akal. Pengarang membatasi ucapannya “apa yang menyertainya” dengan tambahan “dalam akal” karena, seandainya kelaziman di alam luar dijadikan syarat, dalalah iltizam tidak akan terwujud tanpanya, sebab sesuatu yang bersyarat tidak mungkin terwujud tanpa terwujudnya syarat. Akibat itu batil, maka yang menjadi sebabnya pun batil. Sebab 'adam (ketiadaan), seperti buta, menunjukkan malakah (kemampuan yang semestinya ada), seperti melihat, secara iltizam, karena buta adalah tidak adanya penglihatan pada sesuatu yang semestinya bisa melihat; padahal keduanya saling bertentangan di alam luar. Jangan dikatakan bahwa dalalah ini adalah tadhammun, karena kami menjawab: buta adalah ungkapan untuk ketiadaan yang disandarkan kepada penglihatan, sehingga penglihatan berada di luarnya, maka tidak mungkin dalalahnya tadhammun.
3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.
Soal 1
Matan mengatakan bahwa iltizam menunjukkan apa yang menyertai makna “dalam akal”. Menurut al-Kātī, mengapa pengarang menambahkan kata “dalam akal”?
وإنما قيَّد قوله على ما يلازمه بقوله في الذهن
Al-Kātī berhujah bahwa jika kelaziman di alam luar dijadikan syarat, tidak akan terwujud di tempat yang jelas-jelas ada: 'adam (ketiadaan) seperti buta menunjukkan malakah-nya (kemampuan yang semestinya ada), yaitu penglihatan, secara iltizam, padahal keduanya saling bertentangan di alam luar.
Soal 2
Seseorang menyanggah bahwa “buta” menunjukkan “penglihatan” secara tadhammun, bukan secara iltizam. Bagaimana jawaban al-Kātī?
Al-Kātī menjawab bahwa buta adalah ketiadaan yang disandarkan kepada penglihatan; karena itu penglihatan berada di luar maknanya, sehingga dalalahnya tidak mungkin .
Soal 3
Sebuah lafazh yang terdengar dari balik tembok memberi tahu engkau bahwa di sana ada orang yang mengucapkannya. Bagaimana al-Kātī menggolongkan dalalah ini?
Al-Kātī membagi menjadi thab'iyyah, 'aqliyyah, dan , dan memberi yang terdengar dari balik tembok sebagai contoh dalalah 'aqliyyah: akal menuntut adanya orang yang mengucapkannya. Yang dibahas di sini hanyalah dalalah lafzhiyyah wadh'iyyah.
Pelajaran berikutnya: Mufrad dan murakkab, kulli dan juz'i