Beranda / Indian path · level 2 / Pelajaran 24 dari 25

Terkunci

Sebuah syubhat

Kembali ke Tingkat 3

Preview

A look at lesson 24 of level 2. Level 2 opens after level 1; until then you can read this lesson, but its test and the way on stay closed.

Indian path · level 2 · al-Mirqāt · Pelajaran 24 dari 25

Sebuah syubhat

Lima shina'ah

الصِّنَاعَات الخَمْس

Arabic text after the print of Deoband after 1336/1917 · translation by The Mantiqi, draft

About this text

al-Mirqāt المِرْقاة

Faḍl-i Imām Khayrābādī (d. 1243 or 1244/1828–29)

Text
Arabic: al-Mirqāt, with al-Shīrkūtī's gloss al-Mirʾāt (gloss not reproduced), checked against the Delhi print of 1286/1869 (Sayyid al-Maṭābiʿ); vowel marks added by The Mantiqi (draft), Kutub Khāna Iʿzāziyya, Deoband after 1336/1917 View the scan
Translation
The Mantiqi's own; a draft.
Review
Draft, awaiting review by Ustadh Muhammad Yusuf.

Teks Faḍl-i Imām Khayrābādī

أُغْلُوطَةٌ

لَوْ لَمْ يَصْدُقْ قَضِيَّةٌ لَمْ يَصْدُقْ «زَيْدٌ قائِمٌ»، وَكُلَّما لَمْ يَصْدُقْ «زَيْدٌ قائِمٌ» صَدَقَ نَقِيضُهُ، أَعْنِي «زَيْدٌ لَيْسَ بِقائِمٍ»، يُنْتِجُ: كُلَّما لَمْ يَصْدُقْ قَضِيَّةٌ صَدَقَ «زَيْدٌ لَيْسَ بِقائِمٍ»، مَعَ أَنَّها قَضِيَّةٌ مِنَ القَضايا. وَالحَلُّ أَنَّ التَّقادِيرَ المَأْخُوذَةَ فِي الكُبْرَى، أَعْنِي قَوْلَكَ: «كُلَّما لَمْ يَصْدُقْ زَيْدٌ قائِمٌ صَدَقَ نَقِيضُهُ، أَعْنِي زَيْدٌ لَيْسَ بِقائِمٍ»، إِنْ كانَتْ واقِعِيَّةً فَصِدْقُها مُسَلَّمٌ، لٰكِنْ لا انْدِراجَ؛ إِذِ الحُكْمُ فِي الصُّغْرَى إِنَّما هُوَ عَلَى التَّقادِيرِ الفَرْضِيَّةِ الغَيْرِ الواقِعِيَّةِ ضَرُورَةَ أَنَّ عَدَمَ صِدْقِ قَضِيَّةٍ مِنَ القَضايا مِنَ المُمْتَنِعاتِ، ضَرُورَةَ أَنَّ قَوْلَنا: «الواجِبُ مَوْجُودٌ أَوْ سَمِيعٌ أَوْ بَصِيرٌ» واجِبُ الصِّدْقِ، فَيَكُونُ عَدَمُ صِدْقِها مُحالًا؛ وَإِنْ كانَتْ تَقادِيرُ الكُبْرَى أَعَمَّ مَنَعْنا الكُلِّيَّةَ؛ إِذْ كَذِبُ الشَّيْءِ إِنَّما يَسْتَلْزِمُ صِدْقَ نَقِيضِهِ بِحَسَبِ الواقِعِ، فَإِنَّهُ جازَ عَلَى تَقْدِيرِ المُحالِ أَنْ يَكْذِبَ النَّقِيضانِ مَعًا؛ لِأَنَّ المُحالَ جازَ أَنْ يَسْتَلْزِمَ مُحالًا آخَرَ. وَيَقْرُبُ مِنْ هٰذِهِ الأُغْلُوطَةِ المُغالَطَةُ العامَّةُ الوُرُودِ الَّتِي يُمْكِنُ أَنْ يُثْبَتَ بِها أَيُّ مَطْلُوبٍ أَرَدْتَ، صادِقًا كانَ أَوْ كاذِبًا، فَنَقُولُ: المُدَّعَى ثابِتٌ؛ لِأَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنِ المُدَّعَى ثابِتًا كانَ نَقِيضُهُ ثابِتًا، وَكُلَّما كانَ نَقِيضُهُ ثابِتًا كانَ شَيْءٌ مِنَ الأَشْياءِ ثابِتًا، يُنْتِجُ: لَوْ لَمْ يَكُنِ المُدَّعَى ثابِتًا كانَ شَيْءٌ مِنَ الأَشْياءِ ثابِتًا، وَيَنْعَكِسُ بِعَكْسِ النَّقِيضِ: لَوْ لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنَ الأَشْياءِ ثابِتًا كانَ المُدَّعَى ثابِتًا، مَعَ أَنَّهُ شَيْءٌ مِنَ الأَشْياءِ، هٰذا خُلْفٌ. وَتَحَيَّرَ العُقَلاءُ فِي حَلِّهِ؛ فَمِنْ قائِلٍ يَقُولُ: إِنّا لا نُسَلِّمُ أَنَّ تِلْكَ الشَّرْطِيَّةَ تَنْعَكِسُ بِهٰذا العَكْسِ إِلَى هٰذِهِ الشَّرْطِيَّةِ، كَيْفَ وَالشَّيْئانِ فِي الأَصْلِ وَالعَكْسِ مُخْتَلِفانِ بِالعُمُومِ وَالخُصُوصِ، بَلْ عَكْسُ هٰذِهِ الشَّرْطِيَّةِ قَوْلُنا: «كُلَّما لَمْ يَكُنْ ذٰلِكَ الشَّيْءُ ثابِتًا كانَ المُدَّعَى ثابِتًا»، وَهُوَ حَقٌّ، وَإِنْ شِئْتَ قُلْتَ بِتَقْرِيرٍ آخَرَ: إِنَّ عَكْسَ تِلْكَ الشَّرْطِيَّةِ «لَوْ لَمْ يَكُنْ شَيْءٌ مِنَ الأَشْياءِ ثابِتًا فِي ضِمْنِ نَقِيضِ المُدَّعَى كانَ المُدَّعَى ثابِتًا». وَمِنْ مُجِيبٍ يُجِيبُ بِأَنَّ المُقَدَّمَ فِي العَكْسِ مُحالٌ، وَالمُحالُ جازَ أَنْ يَسْتَلْزِمَ نَقِيضَهُ. فَلا خُلْفَ. وَقَدْ وَقَعَ الإِطْنابُ فِي تَفْصِيلِ هٰذا البابِ؛ لِما أَنَّ الوَسائِلَ المُدَوَّنَةَ فِي هٰذا الفَنِّ الَّتِي جَرَتْ فِي زَمانِي هٰذا عادَةً قِراءَتُها خالِيَةٌ عَنْ تَفْصِيلِ بابِ المُغالَطَةِ، فَرَأَيْتُ أَنْ أُوَشِّحَ بِذِكْرِهِ رِسالَتِي هٰذِهِ؛ لِتَكُونَ نافِعَةً لِلمُتَعَلِّمِينَ، مُفِيدَةً لِلطّالِبِينَ.

Seandainya tidak ada satu pun yang benar, tentu “Zayd berdiri” tidak benar; dan setiap kali “Zayd berdiri” tidak benar, -nya, maksudku “Zayd tidak berdiri”, benar. Ini menghasilkan: setiap kali tidak ada satu qadhiyyah pun yang benar, “Zayd tidak berdiri” benar; padahal ia adalah salah satu qadhiyyah. Penguraiannya: taqadir (pengandaian-pengandaian) yang diambil dalam , maksudku ucapanmu “Setiap kali ‘Zayd berdiri’ tidak benar, naqidh-nya, maksudku ‘Zayd tidak berdiri’, benar”, adakalanya waqi'iyyah (sesuai kenyataan) atau lebih umum. Jika ia waqi'iyyah, kebenarannya diterima, tetapi [kasus ] tidak tercakup di dalamnya; sebab putusan dalam shughra hanya atas pengandaian-pengandaian fardhi (sekadar diandaikan) yang tidak waqi'iyyah, secara pasti, karena tidak benarnya satu qadhiyyah pun termasuk hal-hal yang mustahil. Hal itu pasti, karena ucapan kita “Yang Wajib [Ada] itu ada”, atau “Maha Mendengar”, atau “Maha Melihat”, wajib benar, sehingga tidak benarnya mustahil. Jika pengandaian-pengandaian kubra lebih umum, kami tidak menerima -nya; sebab salahnya sesuatu hanya melazimkan benarnya naqidh-nya menurut kenyataan, karena atas pengandaian yang mustahil, kedua naqidh boleh jadi sama-sama salah, sebab yang mustahil boleh jadi melazimkan kemustahilan yang lain. Dekat dengan ughluthah ini adalah yang berlaku umum, yang dengannya dapat ditetapkan apa pun yang engkau cari, benar atau salah. Kita katakan: yang didakwakan itu tetap; sebab seandainya yang didakwakan tidak tetap, naqidh-nya tetap; dan setiap kali naqidh-nya tetap, sesuatu tetap. Ini menghasilkan: seandainya yang didakwakan tidak tetap, sesuatu tetap. Dengan , ini menjadi: seandainya tidak ada sesuatu pun yang tetap, yang didakwakan tetap; padahal [yang didakwakan] itu adalah sesuatu. Ini mustahil (khulf). Para cendekiawan bingung dalam menguraikannya. Sebagian berkata: kami tidak menerima bahwa itu dibalik dengan 'aks ini menjadi syarthiyyah tersebut. Bagaimana mungkin, padahal “sesuatu” dalam qadhiyyah asal dan dalam 'aks-nya berbeda dalam umum dan khususnya? Justru 'aks syarthiyyah ini adalah ucapan kita: “Setiap kali sesuatu itu tidak tetap, yang didakwakan tetap”, dan itu benar. Atau, jika engkau mau, katakanlah dengan penjelasan lain: 'aks syarthiyyah itu adalah “Seandainya tidak ada sesuatu pun yang tetap dalam cakupan naqidh yang didakwakan, yang didakwakan tetap.” Sebagian lain menjawab bahwa dalam 'aks itu mustahil, dan yang mustahil boleh jadi melazimkan naqidh-nya; maka tidak ada kemustahilan [yang ]. Bab ini dibahas panjang lebar karena kitab-kitab pegangan dalam ilmu ini yang biasa dibaca pada zamanku ini tidak memuat rincian bab mughalathah. Maka aku memandang perlu menghiasi risalahku ini dengan menyebutkannya, agar ia bermanfaat bagi para pelajar dan berfaedah bagi para penuntut ilmu.

al-Mirqāt · hlm. 60

فَصْلٌ

وَلا بُدَّ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ إِذا كانَ إِحْدَى مُقَدِّمَتَيِ القِياسِ غَيْرَ بُرْهانِيَّةٍ، بَلْ كانَتْ جَدَلِيَّةً أَوْ خَطابِيَّةً أَوْ شِعْرِيَّةً أَوْ غَيْرَها، كانَ القِياسُ أَيْضًا غَيْرَ بُرْهانِيٍّ، وَكَذا الكَلامُ فِي القِياسِ الجَدَلِيِّ وَنَظائِرِهِ. وَبِالجُمْلَةِ المُؤَلَّفُ مِنَ الرّاجِحِ وَالمَرْجُوحِ مَرْجُوحٌ. وَهٰهُنا قَدْ تَمَّ بَحْثُ الصِّناعاتِ الخَمْسِ، وَبِهِ تَمَّ مَقاصِدُ الفَنِّ بِنَوْعَيْهِ، أَعْنِي المُوصِلَ إِلَى التَّصَوُّرِ وَالمُوصِلَ إِلَى التَّصْدِيقِ.

Perlu diketahui bahwa jika salah satu dari kedua tidak burhani, melainkan jadali, khithabi, syi'ri, atau selainnya, maka qiyas itu juga tidak burhani; demikian pula halnya dengan qiyas jadali dan yang sejenisnya. Singkatnya, yang tersusun dari yang kuat dan yang lemah adalah lemah. Di sini pembahasan telah selesai, dan dengannya selesai pula tujuan-tujuan ilmu ini dengan kedua macamnya, maksudku yang menyampaikan kepada dan yang menyampaikan kepada .

al-Mirqāt · hlm. 62

Uji dirimu

3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.

  1. Soal 1

    “Seandainya tidak satu pun qadhiyyah benar, ‘Zayd tidak berdiri’ akan benar; padahal ia sebuah qadhiyyah.” Pada titik apa jawaban al-Mirqāt atas syubhat ini bersandar?

  2. Soal 2

    Dengan “mughalathah yang berlaku umum” klaim apa pun bisa dibuktikan. Apa salah satu jawaban yang dinukil al-Mirqāt?

  3. Soal 3

    Satu muqaddimah sebuah qiyas burhani dan yang lain khithabi. Menurut al-Mirqāt, qiyas itu termasuk apa?

Pelajaran berikutnya: Penutup: bagian-bagian ilmu dan delapan pokok pembuka

Lanjutkan →