Beranda / Ottoman path · level 2 / Pelajaran 7 dari 17

Terkunci

Ijab-salb dan kulliyyah-juz'iyyah

Kembali ke Tingkat 2

Preview

A look at lesson 7 of level 2. Level 2 opens after level 1; until then you can read this lesson, but its test and the way on stay closed.

Ottoman path · level 2 · Sharḥ Īsāghūjī · Pelajaran 7 dari 17

Ijab-salb dan kulliyyah-juz'iyyah

Qadhiyyah · Matan 22–23

القَضَايَا

Arabic text after the print of Beirut · translation by The Mantiqi, draft

About this text

Sharḥ Īsāghūjī شَرْحُ إِيساغُوجِي

Ḥusām al-Dīn al-Kātī (d. ca. 760/1359)

Text
Arabic: Sharḥ matn al-Īsāghūjī fī al-manṭiq, with notes by Qāsim Naʿīm al-Ḥanafī (not reproduced), Dār al-Kutub al-ʿIlmiyya, Beirut View the scan
Translation
The Mantiqi's own; a draft.
Review
Draft, awaiting review by Ustadh Muhammad Yusuf.

Matan

وَالْقَضِيَّةُ إِمَّا مُوجَبَةٌ كَقَوْلِنَا: زَيْدٌ كَاتِبٌ، وَإِمَّا سَالِبَةٌ كَقَوْلِنَا: زَيْدٌ لَيْسَ بِكَاتِبٍ.

adakalanya , seperti “Zayd adalah penulis”, dan adakalanya , seperti “Zayd bukan penulis.”

Kalimat 22

وَكُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا إِمَّا مَخْصُوصَةٌ كَمَا ذَكَرْنَا، وَإِمَّا كُلِّيَّةٌ مُسَوَّرَةٌ كَقَوْلِنَا: كُلُّ إِنْسَانٍ كَاتِبٌ، وَلَا شَيْءَ مِنَ الإِنْسَانِ بِكَاتِبٍ، وَإِمَّا جُزْئِيَّةٌ مُسَوَّرَةٌ كَقَوْلِنَا: بَعْضُ الإِنْسَانِ كَاتِبٌ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ لَيْسَ بِكَاتِبٍ، وَإِمَّا أَنْ لَا يَكُونَ كَذَلِكَ وَتُسَمَّى: مُهْمَلَةً كَقَوْلِنَا: الإِنْسَانُ كَاتِبٌ، وَالإِنْسَانُ لَيْسَ بِكَاتِبٍ.

Masing-masing dari keduanya adakalanya , seperti contoh-contoh tadi; adakalanya yang memakai , seperti “Setiap manusia adalah penulis” dan “Tidak satu pun manusia adalah penulis”; adakalanya yang memakai sur, seperti “Sebagian manusia adalah penulis” dan “Sebagian manusia bukan penulis”; atau tidak demikian, dan ia disebut , seperti “Manusia adalah penulis” dan “Manusia bukan penulis.”

Kalimat 23

Syarah Ḥusām al-Dīn al-Kātī

قالَ: والقضيةُ: إمَّا مُوجَبةٌ كقولنا: زيدٌ كاتبٌ، وإما سالبةٌ كقولنا: زيدٌ ليس بكاتبٍ.

أَقُولُ: القضيةُ تنقسمُ ثانياً إلى موجبةٍ وسالبةٍ، لأن تلك النسبةَ التي ذكرناها إن كانت حكماً بأن يُقالَ: الموضوعُ محمولٌ، فالقضيةُ موجبةٌ كقولنا: زيدٌ كاتبٌ، وإن كانت حكماً بأن يقالَ: الموضوعُ ليس بمحمولٍ، فالقضيةُ سالبةٌ كقولنا: زيدٌ ليس بكاتبٍ.

Kedua, terbagi menjadi dan . Sebab, jika nisbah yang kami sebutkan itu berupa putusan bahwa “ adalah ”, qadhiyyah itu mujabah, seperti ucapan kita “Zayd adalah penulis”; dan jika ia berupa putusan bahwa “maudhu' bukan mahmul”, qadhiyyah itu salibah, seperti ucapan kita “Zayd bukan penulis.”

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 40

قالَ: وكلُّ واحدٍ منهما، إمَّا مخصوصةٌ كما ذكرنا، وإمَّا كليةٌ مُسوَّرةٌ كقولنا: كلُّ إنسانٍ كاتبٌ، ولا شيءَ من الإنسانِ بكاتبٍ، وإمَّا جُزئيَّةٌ مُسوَّرةٌ كقولنا: بعضُ الإنسانِ كاتبٌ، وبعضُ الإنسان ليس بكاتبٍ، وإما أن لا تكونَ كذلك، وتُسمَّى مُهملةً كقولنا: الإنسانُ كاتبٌ، والإنسانُ ليس بكاتبٍ.

أَقُولُ: كلُّ واحدةٍ من القضية الموجبة والسالبة، إما أن تكونَ مخصوصةً أو محصورةً سواءٌ كانت كليةً، أو جزئيةً، أو مُهملةً، لأنه إن كان الموضوعُ في القضية شخصاً مُعيَّناً جُزئياً، فالقضيةُ مخصوصةٌ كما ذكرنا في مثال المُوجبة والسالبةِ نحو: زيدٌ كاتبٌ، وزيدٌ ليس بكاتبٍ وأمَّا تَسميتُها مخصوصةً، فلخُصوص موضوعِها، وقد يُقالُ لها شخصيةٌ، لكون موضوعِها شخصاً مُعيَّناً جزئيا، وإن لم يكن موضوعُها أي موضوعُ القضية شخصاً معيَّناً جزئياً، بل يكونُ غيرَ مُعيَّنٍ كُليًّا، فإن بُيِّنَ فيها كميَّةُ أفرادِ الموضوع من الكُليَّة والجُزئيَّة، فالقضيةُ محصورةٌ ومسوَّرةٌ، أمَّا كونُها محصورةً: فلحصر أفراد موضوعها، وأمَّا كونُها مسوَّرةً: فلاشتمالها على السُّور الذي هو اللفظُ الدالُّ على كميَّة أفراد الموضوع حاصراً لها، ومُحيطاً بها، والسُّورُ مأخوذٌ من سورِ البلد، فكما أنَّه يحصُرُ البلدَ كذلك ما يدلُّ على كميَّة الأفراد يحصُرُ أفرادَ الموضوع، وهذه المحصورةُ إمَّا أن يُحكَمَ فيها على كلِّ الأفراد، أو على بعضِها، وعلى التَّقديرينِ، فالحكمُ إما بالإيجاب أو بالسَّلب، فإن كان الأولَ فالقضيةُ كليةٌ مسورةٌ موجبةٌ كقولنا: كلُّ إنسانٍ كاتبٌ، أو سالبةٌ كقولنا لا شيءَ من الإنسانِ بكاتبٍ، والسُّورُ في المُوجَبةِ الكُليَّةِ نحو كُلَّ، وفي السالبة نحو لا شيءَ، ولا واحدَ كما ذكرنا، وإن كان الثانيَ أي إن كان الحكمُ في القضية على بعض الأفراد فالقضيةُ جزئيةٌ مسوَّرةٌ موجبةٌ كقولنا بعضُ الإنسان كاتبٌ، أو سالبةٌ كقولنا بعضُ الإنسانِ ليس بكاتبٍ. والسُّورُ في القضيةِ الجُزئيةِ المُوجبةِ نحوُ بعضٍ، وواحدٍ فقط، وفي الجُزئية السالبة نحو ليس كُلّ، وليس بعض، وبعض ليس، وإن لم يكن كل أي وإن لم يكن الموضوعُ في القضيَّة شخصاً مُعيَّناً، ولم يكن الحكمُ فيها على كلِّ الأفراد، أو على بعضِها، فالقضيةُ تُسمَّى مُهملةً كقولنا الإنسانُ كاتبٌ، والإنسانُ ليس بكاتبٍ لإهمال بيانِ كميَّة الأفراد التي حُكِمَ عليها، فإذن كانت القسمةُ مُثلَّثةً كما ثَلَّثَ الشَّيخُ في الشفاءِ، لا يقال: إنَّ القضيةَ الطبيعيةَ خارجةٌ عنها، فلا يصدُقُ الحصرُ، لأنَّا نقولُ: الكلامُ في القضايا المُعتبرة في العلوم، والقضيةُ الطبيعيةُ ليست بمعتبرةٍ في العلوم لعدم إنتاجها، فخروجُها عن التقسيم لا يُخِلُّ بالانحصار.

Masing-masing dari dan adakalanya makhshushah, adakalanya (baik maupun ), dan adakalanya . Sebab, jika dalam qadhiyyah itu satu sosok tertentu yang juz'i, qadhiyyah itu makhshushah, seperti yang kami sebutkan dalam contoh mujabah dan salibah: “Zayd adalah penulis” dan “Zayd bukan penulis.” Ia dinamai makhshushah karena maudhu'-nya khusus; ia juga disebut , karena maudhu'-nya adalah satu sosok (syakhsh) tertentu yang juz'i. Jika maudhu'-nya, yakni maudhu' qadhiyyah itu, bukan satu sosok tertentu yang juz'i, melainkan sesuatu yang tidak tertentu dan kulli, maka jika dijelaskan di dalamnya jumlah satuan-satuan maudhu', apakah seluruhnya atau sebagiannya, qadhiyyah itu mahshurah dan musawwarah (memakai ). Ia disebut mahshurah (yang dipagari) karena satuan-satuan maudhu'-nya dipagari; dan disebut musawwarah karena ia memuat sur, yaitu yang menunjukkan jumlah satuan-satuan maudhu', sambil memagari dan meliputinya. Kata sur diambil dari sur (tembok) kota: sebagaimana tembok itu memagari kota, demikian pula lafazh yang menunjukkan jumlah satuan-satuan memagari satuan-satuan maudhu'. Dalam qadhiyyah mahshurah ini, putusan dijatuhkan atas seluruh satuan atau atas sebagiannya; dan pada kedua keadaan itu, putusannya adakalanya ijab, adakalanya salb. Jika yang pertama [atas seluruh satuan], qadhiyyah itu kulliyyah yang memakai sur: mujabah, seperti ucapan kita “Setiap manusia adalah penulis”, atau salibah, seperti ucapan kita “Tidak satu pun manusia adalah penulis.” Sur dalam misalnya “setiap” (kull), dan dalam misalnya “tidak satu pun” (la syai'a, la wahida), seperti telah kami sebutkan. Jika yang kedua, yakni jika putusan dalam qadhiyyah itu atas sebagian satuan, qadhiyyah itu juz'iyyah yang memakai sur: mujabah, seperti ucapan kita “Sebagian manusia adalah penulis”, atau salibah, seperti ucapan kita “Sebagian manusia bukan penulis.” Sur dalam juz'iyyah mujabah misalnya “sebagian” (ba'dh) dan “satu” (wahid) saja; dan dalam juz'iyyah salibah misalnya “laisa kull” (bukan setiap), “laisa ba'dh” (bukan sebagian), dan “ba'dh … laisa” (sebagian … bukan). Jika bukan keduanya, yakni jika maudhu' qadhiyyah itu bukan satu sosok tertentu, dan putusan di dalamnya tidak dijatuhkan atas seluruh satuan atau atas sebagiannya, qadhiyyah itu disebut muhmalah, seperti ucapan kita “Manusia adalah penulis” dan “Manusia bukan penulis”, karena ia mengabaikan (ihmal) penjelasan jumlah satuan-satuan yang diputuskan atasnya. Jadi pembagiannya tiga, sebagaimana Syaikh [Ibn Sīnā] membaginya menjadi tiga dalam al-Shifāʾ. Jangan dikatakan bahwa qadhiyyah thabi'iyyah berada di luar pembagian ini sehingga pembagiannya tidak lengkap. Karena kami menjawab: pembahasan ini tentang qadhiyyah-qadhiyyah yang diperhitungkan dalam ilmu-ilmu, sedangkan qadhiyyah thabi'iyyah tidak diperhitungkan dalam ilmu-ilmu karena ia tidak menghasilkan kesimpulan; maka keluarnya ia dari pembagian tidak merusak kelengkapan pembagian itu.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 41

Uji dirimu

3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.

  1. Soal 1

    Menurut al-Kātī, mengapa lafazh yang menyatakan jumlah satuan disebut sur (“tembok”)?

    والسُّورُ مأخوذٌ من سورِ البلد

  2. Soal 2

    Seseorang menyanggah bahwa qadhiyyah thabi'iyyah berada di luar pembagian menjadi tiga, sehingga pembagian itu tidak lengkap. Bagaimana jawaban al-Kātī?

  3. Soal 3

    Manakah dari berikut ini yang disebut al-Kātī sebagai sur salibah juz'iyyah?

Pelajaran berikutnya: Syarthiyyah muttashilah dan munfashilah

Lanjutkan →