والمُتَّصلةُ: إمَّا لزوميةٌ كقولنا إن كانتْ الشَّمسُ طالعةً فالنهارُ موجودٌ، وإمَّا اتفاقيةٌ كقولنا إن كان الإنسانُ ناطقاً فالحمارُ ناهقٌ، والمُنفصلةُ: إمَّا حقيقيةٌ كقولنا العددُ إما زوجٌ أو فردٌ، وإمَّا مانعةُ الجَمْع فقط كقولنا هذا الشيءُ إما شجَرٌ وإما حجرٌ، وإما مانعةُ الخُلوّ فقط كقولنا زيدٌ إمَّا أن يكونَ في البحر أو لا يَغرَقَ.
لما فَرَغ من تقسيم الحملية شرعَ في تقسيم الشرطية سواءٌ كانت متصلةً أو منفصلةً. أمَّا الشَّرطيةُ المتصلةُ فتنقسمُ إلى قسمينِ: أحدُهُما لزوميةٌ، والآخرُ اتفاقيةٌ، لأنه إن كان صدقُ التَّالي فيها على تقديرِ وقوع صدق المُقدَّم لعلاقةٍ بينهما تُوجِبُ ذلك، فالقضيةُ متصلةٌ لزوميةٌ، والمرادُ بالعَلاقة ههنا شيءٌ بسببِهِ يَستلزمُ المقدَّمُ التاليَ كالعليَّة، والمعلوليَّة، والتَّضايف. أمَّا العليةُ: فكقولنا إن كانت الشمسُ طالعةً فالنهارُ موجودٌ، فإنَّ طلوعَ الشمسِ علَّةٌ لوجود النهار، وأَمَّا المعلوليةُ: فكقولنا كُلَّما كان النَّهارُ موجوداً فالشَّمسُ طالعةٌ، فإنَّ وجودَ النهار مَعلولٌ لطلوع الشَّمس، وأمَّا التضايفُ: فكقولنا إن كان زيدٌ أباً لبكرٍ فبكرٌ ابنُهُ، وإن كان صدقُ التالي في المتصلة على تقدير وقوع صدق المقدَّم، لا لعلاقةٍ مذكورةٍ، بل على سبيل الاتفاق، فالقضيةُ مُتَّصلةٌ اتفاقيةٌ كقولنا إن كان الإنسانُ ناطقاً فالحمارُ ناهقٌ، فإنه لاعلاقةَ بينَ ناطقية الإنسان، وناهقية الحمار، حتَّى يُجوّزَ العقلُ إستلزامَ ناطقية الإنسان ناهقيةَ الحمار بها، بل توافقُ الطَّرفان على سبيل الصدق بينهما ههنا، وأمَّا الشَّرطيةُ المُنفصلةُ فتنقسمُ على ثلاثةِ أقسامٍ: حقيقيةٍ، ومانعةِ الجمع، ومانعة الخلو، لأنهُ إن حُكِمَ فيها بالتَّنافي بين جُزئيها في الصِّدق والكذب معاً، فالقضيةُ منفصلةٌ حقيقيةٌ كقولنا العددُ إما زوجٌ أو فردٌ، فإنه حُكِمَ في هذه القضية بامتناع اجتماع الزوج والفرد على عددٍ واحدٍ وبامتناع ارتفاعِهما عنه، وإنَّما سُمِّيت حقيقيةً لأن التَّنافي بين جُزئيها أشدُّ من التَّنافي بين جُزئين في القسمينِ الآخرينِ لأنه يُوجَدُ التَّنافي بين جزئيها في الصِّدق والكذب معاً، وهذا ليس إلا حقيقةَ الانفصال، وإن حُكِمَ في القضية بالتنافي بين جُزئيها في الصِّدق فقط، فالقضيةُ منفصلةٌ مانعةُ الجمع كقولنا هذا الشيءُ إما شجرٌ أو حجرٌ، فإنه حُكِمَ في هذه القضية بالتَّنافي بين الشَّجر والحجر في الصِّدق فقط، لا في الكذب لجوازِ أن يكونَ الشيءُ الواحدُ لا شجراً ولا حجراً، وإنما سُمِّيتْ هذه مانعةَ الجمع، لاشتمالها على منع الجمع بين جزئيها في الصدق، وإن حُكِمَ في القضية بالتنافي بين جزئيها في الكذب فقط أي، لا في الصدق، فالقضيةُ مانعةُ الخلو كقولنا زيدٌ إما أن يكونَ في البحر وإما أن لا يغرق، فإنَّهُ حُكِمَ في هذه القضية بالتَّنافي بين أن لا يكون في البحر وأن يغرقَ، لا بينَ أن يكونَ في البحر وأن لا يغرقَ، لجواز أن يكونَ في البحر وأن لا يغرقَ، وإنما سُمِّيتْ هذه القضيةُ مانعةَ الخلو، لاشتمالها على منع الخلو بين جزئيها في الكذب.
Setelah selesai membagi , pengarang mulai membagi , baik maupun . Syarthiyyah muttashilah terbagi menjadi dua: dan . Sebab, jika di dalamnya benar, dengan pengandaian benar, karena adanya 'alaqah (keterkaitan) di antara keduanya yang menuntut hal itu, itu muttashilah luzumiyyah. Yang dimaksud dengan 'alaqah di sini adalah sesuatu yang karenanya muqaddam melazimkan tali, seperti 'illiyyah (menjadi sebab), ma'luliyyah (menjadi akibat), dan tadhayuf (saling bersandar). 'Illiyyah, seperti ucapan kita “Jika matahari telah terbit, maka hari telah siang”: terbitnya matahari adalah sebab adanya siang. Ma'luliyyah, seperti ucapan kita “Setiap kali hari siang, maka matahari telah terbit”: adanya siang adalah akibat dari terbitnya matahari. Tadhayuf, seperti ucapan kita “Jika Zayd adalah ayah Bakr, maka Bakr adalah anaknya.” Tetapi jika dalam muttashilah tali benar, dengan pengandaian muqaddam benar, bukan karena 'alaqah tersebut melainkan secara kebetulan, qadhiyyah itu muttashilah ittifaqiyyah, seperti ucapan kita “Jika manusia itu berpikir, maka keledai itu meringkik.” Sebab tidak ada 'alaqah antara berpikirnya manusia dan meringkiknya keledai yang membuat akal membolehkan berpikirnya manusia melazimkan meringkiknya keledai; yang ada hanyalah kedua sisi itu kebetulan sama-sama benar. Syarthiyyah munfashilah terbagi menjadi tiga: haqiqiyyah, mani'atul jam' (mencegah keduanya berkumpul), dan mani'atul khuluww (mencegah keduanya sama-sama tidak ada). Sebab, jika di dalamnya diputuskan bahwa kedua bagiannya saling menolak dalam benar dan salah sekaligus, qadhiyyah itu munfashilah haqiqiyyah, seperti ucapan kita “Bilangan itu adakalanya genap, adakalanya ganjil.” Qadhiyyah ini memutuskan bahwa genap dan ganjil tidak mungkin berkumpul pada satu bilangan, dan tidak mungkin keduanya sama-sama tidak ada darinya. Ia dinamai haqiqiyyah karena saling menolak antara kedua bagiannya lebih kuat daripada saling menolak antara kedua bagian pada dua macam lainnya, sebab saling menolak antara kedua bagiannya ada dalam benar dan salah sekaligus, dan inilah infishal (keterpisahan) itu sendiri. Jika qadhiyyah itu memutuskan bahwa kedua bagiannya saling menolak dalam benar saja, qadhiyyah itu munfashilah mani'atul jam', seperti ucapan kita “Benda ini adakalanya pohon, adakalanya batu.” Qadhiyyah ini memutuskan bahwa pohon dan batu saling menolak dalam benar saja, bukan dalam salah, karena satu benda bisa saja bukan pohon dan bukan batu. Ia dinamai mani'atul jam' karena ia memuat pencegahan berkumpulnya kedua bagiannya dalam benar. Jika qadhiyyah itu memutuskan bahwa kedua bagiannya saling menolak dalam salah saja, yakni tidak dalam benar, qadhiyyah itu mani'atul khuluww, seperti ucapan kita “Zayd adakalanya berada di laut, adakalanya tidak tenggelam.” Qadhiyyah ini memutuskan bahwa “tidak berada di laut” dan “tenggelam” saling menolak, bukan “berada di laut” dan “tidak tenggelam”, karena ia bisa saja berada di laut dan tidak tenggelam. Qadhiyyah ini dinamai mani'atul khuluww karena ia memuat pencegahan kosongnya kedua bagiannya, yakni sama-sama salah.
Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 43