Indian path · level 2 · al-Mirqāt · Pelajaran 14 dari 25
14
Tanaqudh
Qadhiyyah
القَضَايَا
Arabic text after the print of Deoband after 1336/1917 · translation by The Mantiqi, draft
About this text
al-Mirqāt المِرْقاة
Faḍl-i Imām Khayrābādī (d. 1243 or 1244/1828–29)
Text
Arabic: al-Mirqāt, with al-Shīrkūtī's gloss al-Mirʾāt (gloss not reproduced), checked against the Delhi print of 1286/1869 (Sayyid al-Maṭābiʿ); vowel marks added by The Mantiqi (draft), Kutub Khāna Iʿzāziyya, Deoband after 1336/1917 View the scan
Translation
The Mantiqi's own; a draft.
Review
Draft, awaiting review by Ustadh Muhammad Yusuf.
Teks Faḍl-i Imām Khayrābādī
فصل
وإذْ قد فَرَغْنا عن بَيانِ القَضايا وذِكْرِ أقْسامِها الأوَّلِيَّةِ والثّانَوِيَّةِ، فحانَ لَنا أنْ نَذْكُرَ شَيْئًا مِن أحْكامِها؛ فنَقُولُ: مِن أحْكامِها التَّناقُضُ والعُكُوسُ، فلْنَعْقِدْ لِبَيانِها فُصُولًا، ونَذْكُرْ فيها أُصُولًا.
Setelah kita selesai menjelaskan dan menyebutkan pembagian-pembagiannya yang pertama dan yang kedua, tibalah saatnya kita menyebutkan sebagian hukum-hukumnya. Maka kami katakan: di antara hukum-hukumnya adalah dan -'aks. Karena itu, marilah kita susun beberapa fasal untuk menjelaskannya dan kita sebutkan di dalamnya beberapa kaidah pokok.
التَّناقُضُ هو اخْتِلافُ القَضِيَّتَيْنِ بالإيجابِ والسَّلْبِ بحَيْثُ يَقْتَضِي لِذاتِهِ صِدْقَ إحْداهُما كَذِبَ الأُخْرى أو بالعَكْسِ، كقَوْلِنا: «زَيْدٌ قائِمٌ» و«زَيْدٌ لَيْسَ بقائِمٍ». وشَرْطُ تَحَقُّقِ التَّناقُضِ بَيْنَ القَضِيَّتَيْنِ المَخْصُوصَتَيْنِ وَحَداتٌ ثَمانِيَةٌ، فلا يَتَحَقَّقُ بِدُونِها: وَحْدَةُ المَوْضُوعِ ووَحْدَةُ المَحْمُولِ، ووَحْدَةُ المَكانِ، ووَحْدَةُ الزَّمانِ، ووَحْدَةُ القُوَّةِ والفِعْلِ، ووَحْدَةُ الشَّرْطِ، ووَحْدَةُ الجُزْءِ والكُلِّ، ووَحْدَةُ الإضافَةِ. وقَدِ اجْتَمَعَتْ في هٰذَيْنِ البَيْتَيْنِ، بيت:
«در تناقض هشت وحدة شرط دان * وحدة موضوع ومحمول ومكان
وحدة شرط واضافت جزو وكل * قوة وفعل است در آخر زمان»
فإذا اخْتَلَفَتا فيها لم تَتَناقَضا، نحوُ: «زَيْدٌ قائِمٌ» و«عَمْرٌو لَيْسَ بقائِمٍ»، و«زَيْدٌ قاعِدٌ» و«زَيْدٌ لَيْسَ بقائِمٍ»، و«زَيْدٌ مَوْجُودٌ» أي في الدّارِ و«زَيْدٌ لَيْسَ بمَوْجُودٍ» أي في السُّوقِ، و«زَيْدٌ نائِمٌ» أي في اللَّيْلِ و«زَيْدٌ لَيْسَ بنائِمٍ» أي في النَّهارِ، و«زَيْدٌ مُتَحَرِّكُ الأصابِعِ» أي بشَرْطِ كَوْنِهِ كاتِبًا و«زَيْدٌ لَيْسَ بمُتَحَرِّكِ الأصابِعِ» أي بشَرْطِ كَوْنِهِ غَيْرَ كاتِبٍ، و«الخَمْرُ في الدَّنِّ مُسْكِرٌ» أي بالقُوَّةِ و«الخَمْرُ لَيْسَ بمُسْكِرٍ في الدَّنِّ» أي بالفِعْلِ، و«الزِّنْجِيُّ أسْوَدُ» أي كُلُّهُ و«الزِّنْجِيُّ لَيْسَ بأسْوَدَ» أي جُزْؤُهُ أعْنِي أسْنانَهُ، و«زَيْدٌ أبٌ» أي لِبَكْرٍ و«زَيْدٌ لَيْسَ بأبٍ» أي لِخالِدٍ. وبَعْضُهُمُ اكْتَفَوْا بوَحْدَتَيْنِ، أي وَحْدَةِ المَوْضُوعِ والمَحْمُولِ، لانْدِراجِ البَواقِي فيهما، وبَعْضُهُمْ قَنِعُوا بوَحْدَةِ النِّسْبَةِ فَقَطْ؛ لأنّ وَحْدَتَها مُسْتَلْزِمَةٌ بجَمِيعِ الوَحَداتِ.
adalah perbedaan dua dalam dan sedemikian rupa sehingga, dengan sendirinya, benarnya salah satu menuntut salahnya yang lain, atau sebaliknya; seperti ucapan kita “Zayd berdiri” dan “Zayd tidak berdiri”. Syarat terwujudnya tanaqudh antara dua qadhiyyah adalah delapan wahdah (kesatuan); tanpanya tanaqudh tidak terwujud: kesatuan , kesatuan , kesatuan tempat, kesatuan waktu, kesatuan (kemampuan) dan (kenyataan), kesatuan syarat, kesatuan bagian dan keseluruhan, dan kesatuan idhafah (sandaran). Semuanya telah dihimpun dalam dua bait ini:
“در تناقض هشت وحدة شرط دان * وحدة موضوع ومحمول ومكان
وحدة شرط واضافت جزو وكل * قوة وفعل است در آخر زمان” [Ketahuilah bahwa delapan kesatuan menjadi syarat tanaqudh: kesatuan maudhu', mahmul, dan tempat; kesatuan syarat dan idhafah, bagian dan keseluruhan; quwwah dan fi'l, dan yang terakhir waktu.]
Maka jika keduanya berbeda dalam salah satu dari hal-hal ini, keduanya tidak saling bertentangan; seperti “Zayd berdiri” dan “ʿAmr tidak berdiri”; “Zayd duduk” dan “Zayd tidak berdiri”; “Zayd ada”, yakni di rumah, dan “Zayd tidak ada”, yakni di pasar; “Zayd tidur”, yakni pada malam hari, dan “Zayd tidak tidur”, yakni pada siang hari; “Jari-jari Zayd bergerak”, yakni dengan syarat ia sedang menulis, dan “Jari-jari Zayd tidak bergerak”, yakni dengan syarat ia tidak sedang menulis; “Khamar dalam tempayan itu memabukkan”, yakni bil quwwah, dan “Khamar dalam tempayan itu tidak memabukkan”, yakni bil fi'l; “Orang Zanji itu hitam”, yakni seluruhnya, dan “Orang Zanji itu tidak hitam”, yakni sebagiannya, maksudku giginya; “Zayd adalah ayah”, yakni ayah Bakr, dan “Zayd bukan ayah”, yakni ayah Khālid. Sebagian [] mencukupkan diri dengan dua kesatuan, yaitu kesatuan maudhu' dan kesatuan mahmul, karena sisanya tercakup di dalam keduanya; dan sebagian lagi merasa cukup dengan kesatuan nisbah saja, karena kesatuannya melazimkan seluruh kesatuan.
لا بُدَّ في التَّناقُضِ في المَحْصُورَتَيْنِ مِن كَوْنِ القَضِيَّتَيْنِ مُخْتَلِفَتَيْنِ في الكَمِّ، أعْنِي الكُلِّيَّةَ والجُزْئِيَّةَ؛ فإذا كانَ أحَدُهما كُلِّيَّةً تَكُونُ الأُخْرى جُزْئِيَّةً؛ لأنّ الكُلِّيَّتَيْنِ قد تَكْذِبانِ، كما تَقُولُ: «كُلُّ حَيَوانٍ إنْسانٌ» و«لا شَيْءَ مِنَ الحَيَوانِ بإنْسانٍ»، والجُزْئِيَّتَيْنِ قد تَصْدُقانِ، كقَوْلِكَ: «بَعْضُ الحَيَوانِ إنْسانٌ» و«بَعْضُ الحَيَوانِ لَيْسَ بإنْسانٍ»، ويَكُونُ ذلك في كُلِّ مادَّةٍ يَكُونُ المَوْضُوعُ أعَمَّ فيها. ولا بُدَّ في تَناقُضِ القَضايا المُوَجَّهَةِ مِنَ الاخْتِلافِ في الجِهَةِ؛ فنَقِيضُ الضَّرُورِيَّةِ المُطْلَقَةِ المُمْكِنَةُ العامَّةُ، ونَقِيضُ الدّائِمَةِ المُطْلَقَةِ المُطْلَقَةُ العامَّةُ، ونَقِيضُ المَشْرُوطَةِ العامَّةِ الحِينِيَّةُ المُمْكِنَةُ، ونَقِيضُ العُرْفِيَّةِ العامَّةِ الحِينِيَّةُ المُطْلَقَةُ؛ وهذا في البَسائِطِ المُوَجَّهَةِ. ونَقائِضُ المُرَكَّباتِ مِنْها مَفْهُومٌ مُرَدَّدٌ بَيْنَ نَقِيضَيْ بَسائِطِها، والتَّفْصِيلُ يُطْلَبُ مِن مُطَوَّلاتِ الفَنِّ.
Dalam antara dua , kedua itu harus berbeda dalam kamm (jumlah), maksudku dalam dan : jika yang satu kulliyyah, yang lain juz'iyyah. Sebab dua kulliyyah bisa sama-sama salah, seperti engkau berkata “Setiap hewan adalah manusia” dan “Tidak satu pun hewan adalah manusia”; dan dua juz'iyyah bisa sama-sama benar, seperti ucapanmu “Sebagian hewan adalah manusia” dan “Sebagian hewan bukan manusia”. Hal ini terjadi pada setiap maddah (contoh kasus) yang -nya lebih umum. Dalam tanaqudh antara qadhiyyah-qadhiyyah muwajjahah, keduanya harus berbeda dalam jihah. Maka naqidh dharuriyyah muthlaqah adalah mumkinah 'ammah; naqidh da'imah muthlaqah adalah muthlaqah 'ammah; naqidh masyruthah 'ammah adalah hiniyyah mumkinah; dan naqidh 'urfiyyah 'ammah adalah hiniyyah muthlaqah [hiniyyah: yang berlaku pada suatu saat selama maudhu' bersifat dengan washf 'unwani-nya]. Ini untuk muwajjahah yang basithah. Adapun naqidh-naqidh yang murakkabah adalah suatu pengertian yang berputar di antara naqidh-naqidh bagian-bagian basithah-nya [yakni: “ini atau itu”]. Rinciannya dicari dalam kitab-kitab panjang ilmu ini.
ويُشْتَرَطُ في أخْذِ نَقائِضِ الشَّرْطِيّاتِ الاتِّفاقُ في الجِنْسِ والنَّوْعِ، والمُخالَفَةُ في الكَيْفِ؛ فنَقِيضُ المُتَّصِلَةِ اللُّزُومِيَّةِ المُوجَبَةِ سالِبَةٌ مُتَّصِلَةٌ لُزُومِيَّةٌ، ونَقِيضُ المُنْفَصِلَةِ العِنادِيَّةِ المُوجَبَةِ سالِبَةٌ مُنْفَصِلَةٌ عِنادِيَّةٌ، وهٰكَذا؛ فإذا قُلْتَ: «دائِمًا كُلَّما كانَ ا ب فـج د» كانَ نَقِيضُهُ «لَيْسَ كُلَّما كانَ ا ب فـج د»، وإذا قُلْتَ: «دائِمًا إمّا أنْ يَكُونَ هذا العَدَدُ زَوْجًا أو فَرْدًا» فنَقِيضُهُ «لَيْسَ دائِمًا إمّا أنْ يَكُونَ هذا العَدَدُ زَوْجًا أو فَرْدًا».
Dalam mengambil -syarthiyyah, disyaratkan kesamaan dalam [ atau ] dan dalam [, 'inadiyyah, dan seterusnya], serta perbedaan dalam kaif (). Maka naqidh muttashilah luzumiyyah yang adalah muttashilah luzumiyyah yang ; naqidh munfashilah 'inadiyyah yang mujabah adalah munfashilah 'inadiyyah yang salibah; dan demikian seterusnya. Jika engkau berkata “Selalu, setiap kali A adalah B, maka J adalah D”, naqidh-nya adalah “Tidaklah setiap kali A adalah B, maka J adalah D”; dan jika engkau berkata “Selalu, bilangan ini adakalanya genap, adakalanya ganjil”, naqidh-nya adalah “Tidaklah selalu bilangan ini adakalanya genap, adakalanya ganjil”.
3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.
Soal 1
“Khamar dalam tempayan itu memabukkan” dan “Khamar dalam tempayan itu tidak memabukkan” bisa sama-sama benar. Wahdah (kesatuan) mana dari delapan wahdah yang tidak ada?
Al-Mirqāt menjelaskan bahwa yang pertama berarti “” dan yang kedua “”; tanpa wahdah bil quwwah dan bil fi'l, keduanya tidak .
Soal 2
Mengapa dua qadhiyyah mahshurah harus berbeda dalam kulliyyah-juz'iyyah-nya agar tanaqudh?
Contoh-contoh al-Mirqāt: “Setiap hewan adalah manusia” dan “Tidak satu pun hewan adalah manusia” sama-sama salah; “Sebagian hewan adalah manusia” dan “Sebagian hewan bukan manusia” sama-sama benar.
Soal 3
Menurut al-Mirqāt, apa naqidh dari dharuriyyah muthlaqah?
muwajjahah juga harus berbeda jihah-nya agar ; al-Mirqāt memberikan mumkinah 'ammah sebagai naqidh dharuriyyah muthlaqah, dan muthlaqah 'ammah sebagai naqidh da'imah muthlaqah.
Pelajaran berikutnya: 'Aks mustawi dan 'aks naqidh