Beranda / Jalur Utsmani · tingkat 2 / Pelajaran 9 dari 17

Terkunci

Tanaqudh

Kembali ke Tingkat 2

Pratinjau

Sekilas pelajaran 9 dari tingkat 2. Tingkat 2 terbuka setelah tingkat 1; sampai saat itu kamu bisa membaca pelajaran ini, tetapi ujinya dan jalan selanjutnya tetap tertutup.

Jalur Utsmani · tingkat 2 · Sharḥ Īsāghūjī · Pelajaran 9 dari 17

Tanaqudh

Qadhiyyah · Matan 28–31

القَضَايَا

Teks bahasa Arab menurut cetakan Beirut · terjemahan The Mantiqi, draf

Tentang teks ini

Sharḥ Īsāghūjī شَرْحُ إِيساغُوجِي

Ḥusām al-Dīn al-Kātī (d. ca. 760/1359)

Teks
Arab: Sharḥ matn al-Īsāghūjī fī al-manṭiq, with notes by Qāsim Naʿīm al-Ḥanafī (not reproduced), Dār al-Kutub al-ʿIlmiyya, Beirut Lihat pindaian
Terjemahan
Karya The Mantiqi sendiri; draf.
Tinjauan
Draf, menunggu tinjauan Ustadh Muhammad Yusuf.

Matan

وَالتَّنَاقُضُ هُوَ: اخْتِلَافُ قَضِيَّتَيْنِ بِالإِيجَابِ وَالسَّلْبِ، بِحَيْثُ يَقْتَضِي لِذَاتِهِ أَنْ تَكُونَ إِحْدَاهُمَا صَادِقَةً وَالأُخْرَى كَاذِبَةً، كَقَوْلِنَا: زَيْدٌ كَاتِبٌ، زَيْدٌ لَيْسَ بِكَاتِبٍ.

adalah perbedaan dua dalam dan , sehingga perbedaan itu dengan sendirinya menuntut yang satu benar dan yang lain salah, seperti “Zayd adalah penulis” dan “Zayd bukan penulis.”

Kalimat 28

وَلَا يَتَحَقَّقُ ذَلِكَ إِلَّا بَعْدَ اتِّفَاقِهِمَا فِي الْمَوْضُوعِ، وَالْمَحْمُولِ، وَالزَّمَانِ، وَالْمَكَانِ، وَالإِضَافَةِ، وَالْقُوَّةِ، وَالْفِعْلِ، وَالْجُزْءِ، وَالْكُلِّ، وَالشَّرْطِ.

Hal ini hanya terwujud jika keduanya sama dalam , , waktu, tempat, idhafah (sandaran), (kemampuan), (kenyataan), bagian, keseluruhan, dan syarat.

Kalimat 29

وَنَقِيضُ الْمُوجَبَةِ الْكُلِّيَّةِ إِنَّمَا هِيَ السَّالِبَةُ الْجُزْئِيَّةُ، كَقَوْلِنَا: كُلُّ إِنْسَانٍ حَيَوَانٌ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ لَيْسَ بِحَيَوَانٍ. وَنَقِيضُ السَّالِبَةِ الْكُلِّيَّةِ إِنَّمَا هِيَ الْمُوجَبَةُ الْجُزْئِيَّةُ، كَقَوْلِنَا: لَا شَيْءَ مِنَ الإِنْسَانِ بِحَيَوَانٍ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ حَيَوَانٌ.

adalah , seperti “Setiap manusia adalah hewan” dan “Sebagian manusia bukan hewan”; dan naqidh adalah , seperti “Tidak satu pun manusia adalah hewan” dan “Sebagian manusia adalah hewan.”

Kalimat 30

وَالْمَحْصُورَتَانِ لَا يَتَحَقَّقُ التَّنَاقُضُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بَعْدَ اخْتِلَافِهِمَا فِي الْكَمِّيَّةِ، لِأَنَّ الْكُلِّيَّتَيْنِ قَدْ تَكْذِبَانِ كَقَوْلِنَا: كُلُّ إِنْسَانٍ كَاتِبٌ، وَلَا شَيْءَ مِنَ الإِنْسَانِ بِكَاتِبٍ، وَالْجُزْئِيَّتَيْنِ قَدْ تَصْدُقَانِ كَقَوْلِنَا: بَعْضُ الإِنْسَانِ كَاتِبٌ، وَبَعْضُ الإِنْسَانِ لَيْسَ بِكَاتِبٍ.

Di antara dua , hanya terwujud jika keduanya berbeda dalam , karena dua bisa sama-sama salah, seperti “Setiap manusia adalah penulis” dan “Tidak satu pun manusia adalah penulis”, dan dua bisa sama-sama benar, seperti “Sebagian manusia adalah penulis” dan “Sebagian manusia bukan penulis.”

Kalimat 31

Syarah Ḥusām al-Dīn al-Kātī

قالَ: التَّناقضُ: هو اختلافُ القضيَّتينِ بالإيجاب والسلب بحيثُ يقتضي لذاتِهِ أن تكونَ إحداهُما صادقةً، والأخرى كاذبةً كقولنا: زيدٌ كاتبٌ، وزيدٌ ليس بكاتبٍ.

أَقُولُ: من الاصطلاحاتِ المَنطقيَّةِ المَذكورةِ التَّناقضُ: وهو اختلافُ القضيَّتينِ بالإيجاب والسَّلب بحيث يقتضي لذاته أن تكونَ إحداهما صادقةً، والأخرى كاذبةً كقولنا: زيدٌ كاتبٌ، وزيدٌ ليس بكاتبٍ، فإنَّ هاتينِ القضيتينِ اختلفَتَا بالإيجاب والسلب اختلافاً يقتضي لذاته أن تكونَ إحداهما صادقةً، والأخرى كاذبةً على حَسْبِ الواقع. وقولُهُ اختلاف: جنسٌ شاملٌ للاختلاف الواقع بين قضيَّتينِ ومُفردينِ، ومفردٍ وقضيةٍ، وقوله قضيتين: يُخرِجُ الاختلافَ الواقعَ بين غيرِ قضيتين، وقوله بالإيجاب والسلب: يُخرِجُ الاختلافَ الواقع بالاتصال والانفصال، والاختلافَ بالكُليَّة والجُزئيَّة، والاختلافَ بالحصر والإهمال، والاختلافَ بالعُدول والتَّحصيل وغيرِ ذلك، وقوله بحيثُ يقتضي الخ: يُخرِجُ الاختلافَ بالإيجاب والسلب، لكنْ لا بحيث يقتضي صدقُ إحداهما كَذِبَ الأخرى نحو: زيدٌ ساكنٌ، وزيدٌ ليس بمُتحرِّكٍ، لأنهما صادقتان، وقوله لذاته: يُخرجُ الاختلافَ بالإيجاب والسلب بحيثُ يقتضي صدقُ إحداهما كذبَ الأخرى، لكن لا لذات ذلك الاختلاف نحو: زيدٌ إنسانٌ، وزيدٌ ليس بناطقٍ، فإن الاختلافَ بين هاتين القضيتين إنَّما يقتضى أن يكونَ إحداهما صادقةً، والأخرى كاذبةً، لكنْ لا لذاته بل بواسطةِ أنَّ قولَنا: زيدٌ ليس بناطقٍ في قُوَّةِ قولِنا: زيدٌ ليس بإنسان، أو لأنَّ قولَنا: زيدٌ إنسانٌ في قُوَّة قولِنا: زيدٌ ناطقٌ، فيكونُ ذلك بواسطةٍ لا لذاتِه.

Di antara istilah-istilah yang disebutkan adalah : yaitu “perbedaan dua dalam dan , sehingga perbedaan itu dengan sendirinya menuntut yang satu benar dan yang lain salah”, seperti ucapan kita “Zayd adalah penulis” dan “Zayd bukan penulis.” Kedua qadhiyyah ini berbeda dalam ijab dan salb dengan perbedaan yang dengan sendirinya menuntut salah satunya benar dan yang lain salah, sesuai dengan kenyataan. Ucapannya “perbedaan” adalah , yang mencakup perbedaan antara dua qadhiyyah, antara dua , dan antara mufrad dan qadhiyyah. Ucapannya “dua qadhiyyah” mengeluarkan perbedaan antara selain dua qadhiyyah. Ucapannya “dalam ijab dan salb” mengeluarkan perbedaan dalam ittishal dan infishal ( atau ), perbedaan dalam , perbedaan dalam dan , perbedaan dalam 'udul dan tahshil (apakah kata ingkar menjadi bagian dari atau atau tidak), dan sebagainya. Ucapannya “sehingga … menuntut” mengeluarkan perbedaan dalam ijab dan salb yang tidak menuntut benarnya yang satu melazimkan salahnya yang lain, seperti “Zayd diam” dan “Zayd tidak bergerak”, karena keduanya benar. Ucapannya “dengan sendirinya” mengeluarkan perbedaan dalam ijab dan salb yang membuat benarnya yang satu menuntut salahnya yang lain, tetapi bukan karena perbedaan itu sendiri, seperti “Zayd adalah manusia” dan “Zayd bukan yang berpikir.” Perbedaan antara kedua qadhiyyah ini memang menuntut salah satunya benar dan yang lain salah, tetapi bukan dengan sendirinya, melainkan melalui perantaraan bahwa ucapan kita “Zayd bukan yang berpikir” setara maknanya dengan ucapan kita “Zayd bukan manusia”, atau bahwa ucapan kita “Zayd adalah manusia” setara maknanya dengan ucapan kita “Zayd berpikir”. Jadi hal itu terjadi melalui perantara, bukan dengan sendirinya.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 50

قالَ: ولا يَتحقَّقُ ذلك في المَخصُوصتينِ إلا بعدَ اتِّفاقِهما في الموضوع والمحمولِ والزمانِ والمكانِ والإضافة والقُوَّة والفِعلِ والجُزء والكُلِّ والشَّرط، ونقيضُ المُوجبةِ الكُليَّةِ إنَّما هي السالبةُ الجُزئيَّةُ كقولنا: كلُّ إنسانٍ حيوانٌ، وبعضُ الإنسانِ ليس بحيوانٍ، ونقيضُ السَّالبةِ الكُليَّةِ إنما هي المُوجَبةُ الجُزئيَّةُ كقولِنا: لا شيءَ من الإنسانِ بحيوانٍ، وبعضُ الإنسانِ حيوانٌ.

أَقُولُ: القَضيتان اللَّتان بينهما يقعُ التَّناقضُ لا يَخلو من أن تكونا مَخصوصتينِ أو مَحصورتينِ أو مُهملتينِ، فإن كانتا مخصوصتين فلا يتحقَّقُ التَّناقضُ بينهما إلا بعد اتِّفاقِهما في ثماني وَحَداتٍ: الأُولى: وَحدة الموضوع، لأنهما لو اختلفتا في هذه الوحدةِ لم تتناقضا نحو: زيدٌ قائمٌ، وعمروٌ ليس بقائمٍ، والثانية: وَحدةُ المحمولِ، إذ لو اختلفتا فيها لم تتناقضا نحو: زيدٌ كاتبٌ، وزيدٌ ليس بشاعرٍ، والثالثةُ: وحدةُ الزمانِ، إذ لو اختلفتا فيها لم تتناقضا نحو زيدٌ قائمٌ ليلاً، وزيدٌ ليس بقائمٍ نهاراً، والرابعةُ: وَحدةُ المكان، لأنَّهما عند اختلافِهما فيها لم تتناقضا نحو: زيدٌ قائمٌ في الدار، وزيدٌ ليس بقائمٍ في السُّوقِ، والخامسةُ: وَحدةُ الإضافةِ، لأنهما لو اختلفتا فيها لم تتناقضا نحو: زيدٌ أبٌ لعمرو، وزيد ليس بأبٍ لبكرٍ، والسادسةُ: وَحدةُ القُوَّةِ والفعل، لأنهما لو اختلفتا فيها بأن تكون النِّسبةُ في إحداهما بالقُوَّة، وفي الأخرى بالفعل، لم تتناقضا نحو: الخَمْرُ في الدَّنِّ مُسكِرٌ أي بالقُوَّة، والخمرُ في الدَّنِّ ليس بمُسكرٍ أي بالفعل، والسابعةُ: وَحدةُ الكُلِّ والجُزءِ، لأنهما لو اختلفتا في الكُلِّ والجُزء لم يَتحقَّق التَّناقضُ نحو: الزنجيُّ أسودُ أي بعضُهُ، والزنجي ليس بأسودَ أي كُلِّهِ، والثامنةُ: وَحدةُ الشرطِ، لعدم تحقُّقِ التَّناقضِ بين القضيتين عند اختلاف الشَّرط كقولِنا: الجسمُ مُفرِّقٌ للبصرِ أي بشرط كونِهِ أبيضَ، والجسمُ ليس بمُفرِّقٍ للبصر أي بشرط كونِهِ أسودَ، وإذا عرفتَ هذا فنقولُ: إنَّ القضيتين إذا كانت إحداهما موجبةً كليةً ينبغي أن تكونَ الأُخرى سالبةً جزئيةً، وإذا كانت سالبةً كليةً ينبغي أن تكونَ الأُخرى موجبةً جزئيةً: فنقيضُ الموجبة الكلية إنما هي السالبةُ الجزئيةُ كقولنا: كلُّ إنسانٍ حيوانٌ، وبعضُ الإنسانِ ليس بحيوانٍ، ونقيضُ السَّالبة الكلية إنما هي الموجبةُ الجزئيةُ كقولنا: لا شيءَ من الإنسانِ بحيوانٍ، وبعضُ الإنسانِ حيوانٌ، وبقيةُ هذا وكيفيتُهُ سيأتي في المحصورات، والحقُّ أنَّ إيرادَ المُصنِّفِ رحمه الله تعالى هذا أي قوله ونقيضُ الموجبة الكلية الخ ههُنا: ليس في موضعهِ، وإنما موضعُهُ بعدَ تحقيق المَحصورات.

Dua yang di antara keduanya terjadi adakalanya keduanya makhshushah, keduanya , atau keduanya . Jika keduanya makhshushah, tanaqudh di antara keduanya hanya terwujud jika keduanya sama dalam delapan wahdah (kesatuan). Pertama: kesatuan , sebab jika keduanya berbeda dalam kesatuan ini, keduanya tidak saling bertentangan, seperti “Zayd berdiri” dan “ʿAmr tidak berdiri.” Kedua: kesatuan , sebab jika keduanya berbeda di dalamnya, keduanya tidak saling bertentangan, seperti “Zayd adalah penulis” dan “Zayd bukan penyair.” Ketiga: kesatuan waktu, sebab jika keduanya berbeda di dalamnya, keduanya tidak saling bertentangan, seperti “Zayd berdiri pada malam hari” dan “Zayd tidak berdiri pada siang hari.” Keempat: kesatuan tempat, sebab ketika keduanya berbeda di dalamnya, keduanya tidak saling bertentangan, seperti “Zayd berdiri di rumah” dan “Zayd tidak berdiri di pasar.” Kelima: kesatuan idhafah (sandaran), sebab jika keduanya berbeda di dalamnya, keduanya tidak saling bertentangan, seperti “Zayd adalah ayah ʿAmr” dan “Zayd bukan ayah Bakr.” Keenam: kesatuan (kemampuan) dan (kenyataan), sebab jika keduanya berbeda di dalamnya, yakni nisbah dalam salah satunya bil quwwah dan dalam yang lain bil fi'l, keduanya tidak saling bertentangan, seperti “Khamar dalam tempayan itu memabukkan”, yakni bil quwwah, dan “Khamar dalam tempayan itu tidak memabukkan”, yakni bil fi'l. Ketujuh: kesatuan keseluruhan dan bagian, sebab jika keduanya berbeda dalam keseluruhan dan bagian, tanaqudh tidak terwujud, seperti “Orang Zanji itu hitam”, yakni sebagiannya, dan “Orang Zanji itu tidak hitam”, yakni seluruhnya. Kedelapan: kesatuan syarat, karena tanaqudh tidak terwujud antara dua qadhiyyah bila syaratnya berbeda, seperti ucapan kita “ itu menyilaukan pandangan”, yakni dengan syarat ia putih, dan “Jisim itu tidak menyilaukan pandangan”, yakni dengan syarat ia hitam. Jika engkau telah mengetahui ini, kami katakan: dari dua qadhiyyah, jika salah satunya , yang lain harus ; dan jika salah satunya , yang lain harus . Jadi “naqidh mujabah kulliyyah adalah salibah juz'iyyah, seperti ‘Setiap manusia adalah hewan’ dan ‘Sebagian manusia bukan hewan’; dan naqidh salibah kulliyyah adalah mujabah juz'iyyah, seperti ‘Tidak satu pun manusia adalah hewan’ dan ‘Sebagian manusia adalah hewan.’” Sisa pembahasan ini dan rinciannya akan datang dalam pembahasan qadhiyyah mahshurah. Sebenarnya, pengarang (semoga Allah Ta'ala merahmatinya) menyebutkan hal ini di sini, yakni ucapannya “naqidh mujabah kulliyyah …”, tidak pada tempatnya; tempatnya adalah setelah qadhiyyah mahshurah dijelaskan.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 52

قالَ: المحصورتان: لا يَتحقَّقُ التَّناقضُ بينهما إلا بعدَ اختلافهما في الكُلِّيةِ والجُزئيَّةِ، لأنَّ الكُليَّتينِ قد تَكذبانِ كقولِنا: كلُّ إنسانٍ كاتبٌ، ولا شيءَ من الإنسانِ بكاتبٍ، والجُزئيَّتين قد تَصدُقان كقولنا: بعضُ الإنسانِ كاتبٌ، وبعضُ الإنسانِ ليس بكاتبٍ.

أَقُولُ: إن كانت القضيتانِ المتناقضتانِ محصورتينِ لا يتحقَّقُ التَّناقضُ بينهما إلا بعد اختلافِهما في الكُلِّية والجزئية، بأن تكون إحداهما كليةً، والأخرى جزئيةً، وهذا إنما يكونُ بعد اتِّفاقِهما في الوَحَدات المذكورة، ولو قيل بعد قوله في الكُلِّية والجُزئية قولهُ: أيضاً، لكانَ أولى، ليكونَ إشارةً إليه أعني بعدَ اتِّفاقِهما في الوَحدة المذكورة، وإنما قُلنا: إنَّهُ لم يتحقَّق التَّناقضُ في المحصورتين إلا بعد اختلافِهما في الكلية والجزئية، لأنَّ الكُلِّيتين قد تكذبان نحو: كلُّ إنسانٍ كاتبٌ، ولا شيء من الإنسان بكاتبٍ، والجُزئيتين قد تصدقان كقولنا: بعضُ الإنسانِ كاتبٌ، وبعضُ الإنسانِ ليس بكاتبٍ، فنقيضُ الكُليَّةِ الجُزئيةُ، لا الكُليةُ، وبالعكس أعني نقيضَ الجُزئية الكُلية لا الجُزئية، وإن كانتِ القضيتان مُهملتين فحكمُهما حكمُ المحصورتين، لأنَّ المُهملاتِ من المحصوراتِ في الحقيقة من حيثُ إنَّها في قُوَّةِ الجزئية.

Jika kedua yang saling bertentangan itu , di antara keduanya hanya terwujud jika keduanya berbeda dalam , yakni yang satu dan yang lain ; dan ini hanya berlaku setelah keduanya sama dalam wahdah-wahdah yang telah disebutkan. Lebih baik jika setelah ucapannya “dalam kulliyyah-juz'iyyah” ditambahkan kata “juga”, untuk menunjuk kepada hal itu, yakni [bahwa perbedaan itu datang] setelah keduanya sama dalam wahdah yang disebutkan. Kami katakan bahwa tanaqudh antara dua mahshurah hanya terwujud jika keduanya berbeda dalam kulliyyah-juz'iyyah, karena dua kulliyyah bisa sama-sama salah, seperti “Setiap manusia adalah penulis” dan “Tidak satu pun manusia adalah penulis”, dan dua juz'iyyah bisa sama-sama benar, seperti ucapan kita “Sebagian manusia adalah penulis” dan “Sebagian manusia bukan penulis.” Jadi naqidh kulliyyah adalah juz'iyyah, bukan kulliyyah; dan sebaliknya, yakni naqidh juz'iyyah adalah kulliyyah, bukan juz'iyyah. Jika kedua qadhiyyah itu , hukumnya sama dengan hukum dua mahshurah, karena muhmalah pada termasuk mahshurah, dari sisi bahwa ia setara maknanya dengan juz'iyyah.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 54

Uji dirimu

3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.

  1. Soal 1

    “Zayd adalah manusia” dan “Zayd bukan yang berpikir”: yang satu pasti benar dan yang lain salah. Menurut al-Kātī, mengapa keduanya tetap bukan tanaqudh?

  2. Soal 2

    “Khamar dalam tempayan itu memabukkan” dan “Khamar dalam tempayan itu tidak memabukkan” bisa sama-sama benar. Menurut al-Kātī, wahdah (kesatuan) apa yang tidak dimiliki bersama oleh keduanya?

  3. Soal 3

    Bagaimana al-Kātī memperlakukan dua qadhiyyah muhmalah dalam hal tanaqudh?

Pelajaran berikutnya: 'Aks

Lanjutkan →