Beranda / Jalur Utsmani · tingkat 2 / Pelajaran 11 dari 17

Terkunci

Qiyas dan hadd-haddnya

Kembali ke Tingkat 2

Pratinjau

Sekilas pelajaran 11 dari tingkat 2. Tingkat 2 terbuka setelah tingkat 1; sampai saat itu kamu bisa membaca pelajaran ini, tetapi ujinya dan jalan selanjutnya tetap tertutup.

Jalur Utsmani · tingkat 2 · Sharḥ Īsāghūjī · Pelajaran 11 dari 17

Qiyas dan hadd-haddnya

Qiyas · Matan 36–38

القِيَاس

Teks bahasa Arab menurut cetakan Beirut · terjemahan The Mantiqi, draf

Tentang teks ini

Sharḥ Īsāghūjī شَرْحُ إِيساغُوجِي

Ḥusām al-Dīn al-Kātī (d. ca. 760/1359)

Teks
Arab: Sharḥ matn al-Īsāghūjī fī al-manṭiq, with notes by Qāsim Naʿīm al-Ḥanafī (not reproduced), Dār al-Kutub al-ʿIlmiyya, Beirut Lihat pindaian
Terjemahan
Karya The Mantiqi sendiri; draf.
Tinjauan
Draf, menunggu tinjauan Ustadh Muhammad Yusuf.

Matan

الْقِيَاسُ هُوَ: قَوْلٌ مُؤَلَّفٌ مِنْ أَقْوَالٍ، مَتَى سُلِّمَتْ لَزِمَ عَنْهَا لِذَاتِهَا قَوْلٌ آخَرُ.

adalah pernyataan yang tersusun dari beberapa pernyataan, yang jika pernyataan-pernyataan itu diterima, akan melahirkan pernyataan lain dengan sendirinya.

Kalimat 36

وَهُوَ إِمَّا اقْتِرَانِيٌّ كَقَوْلِنَا: كُلُّ جِسْمٍ مُؤَلَّفٌ، وَكُلُّ مُؤَلَّفٍ حَادِثٌ، فَكُلُّ جِسْمٍ حَادِثٌ؛ وَإِمَّا اسْتِثْنَائِيٌّ كَقَوْلِنَا: إِنْ كَانَتِ الشَّمْسُ طَالِعَةً فَالنَّهَارُ مَوْجُودٌ، لَكِنِ النَّهَارُ لَيْسَ بِمَوْجُودٍ، فَالشَّمْسُ لَيْسَتْ بِطَالِعَةٍ.

Ia adakalanya , seperti “Setiap itu tersusun, dan setiap yang tersusun itu baharu, maka setiap jisim itu baharu”; dan adakalanya , seperti “Jika matahari telah terbit, maka hari telah siang; tetapi hari belum siang, maka matahari belum terbit.”

Kalimat 37

وَالْمُكَرَّرُ بَيْنَ مُقَدِّمَتَيِ الْقِيَاسِ يُسَمَّى: حَدًّا أَوْسَطَ، وَمَوْضُوعُ الْمَطْلُوبِ يُسَمَّى: حَدًّا أَصْغَرَ، وَمَحْمُولُهُ يُسَمَّى: حَدًّا أَكْبَرَ؛ وَالْمُقَدِّمَةُ الَّتِي فِيهَا الأَصْغَرُ تُسَمَّى: صُغْرَى، وَالَّتِي فِيهَا الأَكْبَرُ تُسَمَّى: كُبْرَى، وَهَيْئَةُ التَّأْلِيفِ تُسَمَّى: شَكْلًا.

Bagian yang terulang dalam kedua disebut ; dari kesimpulan yang dicari disebut , dan disebut . Muqaddimah yang memuat hadd ashghar disebut , yang memuat hadd akbar disebut , dan bentuk susunan keduanya disebut .

Kalimat 38

Syarah Ḥusām al-Dīn al-Kātī

قالَ: القياسُ: هو قولٌ مُؤلَّفٌ من أقوالٍ متى سُلِّمتْ لَزِمَ عنها لذاتِها قولٌ آخرُ.

أَقُولُ: المَطلَبُ الأعلى، والمَقصِدُ الأقصى من الاصطلاحاتِ المَنطقيَّةِ المذكورةِ: القياس، ورسموه: بأنه قولٌ مؤلَّفٌ من أقوالٍ. متى سُلِّمتْ لَزِمَ عنها أي عن تلك الأقوالِ لذاتها قولٌ آخرُ كقولنا: العالَمُ مُتغيِّرٌ، وكلُّ متغيرٍ حادثٌ، فإنه مركَّبٌ من قولينِ إذا سُلِّمتا لَزِمَ عنهما لذاتها العالَمُ حادثٌ، والمرادُ من القولِ أعمُّ من أن يكونَ مَعقُولاً، أو ملفوظاً، والمرادُ من الأقوال ما فوقَ الواحد ليتناولَ القياسَ المؤلَّفَ من القولين، والقياسَ المؤلَّفَ من أقوالٍ فوقَ الاثنين، فالقولُ الواحدُ لا يُسمَّى قياساً وإن لَزِمَ عنه لذاته قولٌ آخرُ كعكسِ المُستوي وعكسِ النَّقيض، وقولُهُ: متى سُلِّمت يُشِيرُ إلى أن تلك الأقوالَ لا يلزمُ أن تكونَ مُسلَّمةً في نفسِها، بل يلزمُ أن تكونَ بحيثُ لو سُلِّمتْ لَزِمَ منها لذاتها قولٌ آخرُ، ليدخلَ في التَّعريف القياسُ الذي مُقدِّماتُهُ صادقةٌ، والذي مُقدِّماتُهُ كاذبةٌ كقولِنا: كلُّ إنسانٍ جَمادٌ، وكلُّ جمادٍ حمارٌ، فإنَّ هذينِ القولينِ وإن كَذِبَا في نفسِهما إلا أنَّهما بحيثُ لو سُلِّمتا لزم عنهما كلُّ إنسانٍ حمارٌ، وقولُهُ لزم عنها: احترزَ به عن الاستقراءِ والتمثيلِ، لأنهما وإن سلِّم مقدماتُهما، لكن لا يلزمُ عنهما شيءٌ آخرُ لإمكان التخلُّف في مدلوليهما عنهما، وقولُهُ لذاتها: يُحتَرزُ به عن القياس الذي يلزمُ عنه بعد التَّسليمِ قولٌ آخرُ لا لذاته، بل بواسطةِ مقدَمةٍ أجنبيةٍ كما في قياس المُساواة: وهو ما يتركَّبُ من قولين بحيث يكونُ مُتعلِّقُ محمولِ أولهما موضوعَ الآخر كقولنا أ مساوٍ لب، وب مساوٍ لج، فإنَّ هذين القولين يستلزمان أ مساوٍ لج، لكن لا لذاتهما، بل بواسطة مقدَمةٍ أجنبيةٍ، وهي أن كلَّ مُساوٍ لمساوي الشيء مُساوٍ لذلك الشيء، وإنَّما قال: من أقوال ولم يقلْ من مقدماتٍ، لِئلا يلزمَ الدور، لأنَّ المقدّمةَ قد عرفوها: بأنها ما جُعِلتْ جزءَ القياس، فأُخِذَ القياسُ في تعريفِها، ولو أُخِذَتْ هي أيضاً في تعريفِ القياس لزمَ الدور.

Tujuan tertinggi dan maksud terjauh dari istilah-istilah yang disebutkan [dalam kitab ini] adalah: . Mereka menta'rifkannya dengan sebagai “pernyataan yang tersusun dari beberapa pernyataan, yang jika pernyataan-pernyataan itu diterima, akan melahirkan”, yakni dari pernyataan-pernyataan itu, “pernyataan lain dengan sendirinya”. Contohnya ucapan kita: “Alam itu berubah, dan setiap yang berubah itu baharu.” Ini tersusun dari dua pernyataan yang, jika diterima, dengan sendirinya melahirkan “Alam itu baharu.” Yang dimaksud dengan “pernyataan” lebih umum daripada yang dipikirkan atau yang diucapkan. Yang dimaksud dengan “beberapa pernyataan” adalah lebih dari satu, agar [ ini] mencakup qiyas yang tersusun dari dua pernyataan dan qiyas yang tersusun dari lebih dari dua pernyataan. Karena itu satu pernyataan tidak disebut qiyas, walaupun pernyataan lain lahir darinya dengan sendirinya, seperti pada dan . Ucapannya “jika pernyataan-pernyataan itu diterima” menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan itu tidak harus diterima pada dirinya; cukup bahwa keadaannya sedemikian rupa sehingga, seandainya diterima, pernyataan lain lahir darinya dengan sendirinya. Dengan begitu ta'rif ini mencakup qiyas yang -muqaddimahnya benar dan qiyas yang muqaddimah-muqaddimahnya salah, seperti ucapan kita: “Setiap manusia adalah benda mati, dan setiap benda mati adalah keledai.” Walaupun kedua pernyataan ini salah pada dirinya, keadaannya sedemikian rupa sehingga, seandainya diterima, akan lahir darinya “Setiap manusia adalah keledai.” Dengan ucapannya “akan melahirkan” ia mengeluarkan dan : walaupun muqaddimah-muqaddimah keduanya diterima, tidak ada sesuatu yang pasti lahir darinya, karena apa yang ditunjukkan keduanya bisa saja tidak terjadi meskipun muqaddimahnya ada. Dengan ucapannya “dengan sendirinya” ia mengeluarkan qiyas yang, setelah diterima, melahirkan pernyataan lain, tetapi bukan dengan sendirinya, melainkan melalui perantaraan muqaddimah asing (dari luar), seperti dalam qiyas musawah (qiyas kesamaan). Ia adalah qiyas yang tersusun dari dua pernyataan sedemikian rupa sehingga apa yang berkaitan dengan pernyataan pertama adalah pernyataan yang lain, seperti ucapan kita: “A sama dengan B, dan B sama dengan C.” Kedua pernyataan ini melazimkan “A sama dengan C”, tetapi bukan dengan sendirinya, melainkan melalui perantaraan muqaddimah asing, yaitu bahwa setiap yang sama dengan sesuatu yang sama dengan suatu hal, ia sama dengan hal itu. Ia berkata “dari beberapa pernyataan” dan tidak berkata “dari beberapa muqaddimah” hanya agar tidak terjadi . Sebab mereka telah menta'rifkan muqaddimah sebagai sesuatu yang dijadikan bagian dari qiyas, sehingga qiyas dimasukkan dalam ta'rif muqaddimah; seandainya muqaddimah juga dimasukkan dalam ta'rif qiyas, terjadilah daur.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 60

قالَ: هو إمَّا اقترانيٌّ: مثلاً كلُّ جسمٍ مؤلفٌ، وكلُّ مؤلّفٍ مُحدَثٌ، ينتجُ: كلُّ جسمٍ مُحدَثٌ، وإمَّا استثنائيٌّ: كقولنا إن كانت الشمسُ طالعةً فالنهارُ موجودٌ لكنَّ الشمسَ طالعةٌ، فالنهارُ موجودٌ لكن النهارَ ليس بموجودٍ، فالشمسُ ليست بطالعةٍ.

أَقُولُ: القياسُ ينقسمُ إلى قسمينِ: اقترانيٍّ، واستثنائيٍّ، لأنه إذا لم يكن عينُ النتيجة، أو نقيضُها مذكوراً فيه بالفعل، فهو اقترانيٌّ كقولنا كلُّ جسمٍ مؤلفٌ وكلُّ مؤلِفٍ مُحدَثٌ، فكلُّ جسمٍ محدثٌ، وإن كان عينُ النَّتيجةِ أو نقيضُها مذكوراً فيه بالفعلِ، فهو استثنائيٌّ كقولنا إن كانت الشمسُ طالعةً فالنهارُ موجودٌ لكنَّ الشَّمسَ طالعةٌ، ينتج: فالنهارُ موجودٌ لكنَّ النهارَ ليس بموجودٍ، فالشمسُ ليست بطالعةٍ، وإنما سُمِّي الأولُ اقترانياً لكونِ الحدودِ فيه مُقترنةً غيرَ مُستثناةٍ، وإنما سُمِّي الثاني استثنائياً، لاشتماله على أداة الاستثناء، وهو "لكنَّ"، والمرادُ من كون عين النتيجةِ أو نقيضِها مذكوراً بالفعل في القياسِ: هو أن تكونَ طرفاها أو طرفا نقيضها مذكورينِ بالترتيب الذي في النتيجة.

terbagi menjadi dua: dan . Sebab, jika kesimpulan itu sendiri ataupun -nya tidak disebut secara nyata di dalamnya, ia iqtirani, seperti ucapan kita: “Setiap itu tersusun, dan setiap yang tersusun itu baharu, maka setiap jisim itu baharu.” Dan jika kesimpulan itu sendiri atau naqidh-nya disebut secara nyata di dalamnya, ia istitsna'i, seperti ucapan kita: “Jika matahari telah terbit, maka hari telah siang; tetapi matahari telah terbit”, yang menghasilkan “maka hari telah siang”; [atau:] “tetapi hari belum siang, maka matahari belum terbit.” Yang pertama dinamai iqtirani hanya karena bagian-bagiannya (hudud) bergandengan (muqtarinah) dan tidak dipisahkan dengan istitsna' (pengecualian); yang kedua dinamai istitsna'i hanya karena ia memuat adat istitsna' (kata pengecualian), yaitu “tetapi” (lakinna). Yang dimaksud dengan disebutnya kesimpulan itu sendiri atau naqidh-nya secara nyata dalam qiyas adalah bahwa kedua ujungnya, atau kedua ujung naqidh-nya, disebut dengan urutan yang sama seperti dalam kesimpulan.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 64

قالَ: والمُكَرَّرُ بينَ مُقدِّمتَي القياسِ فصاعداً يُسمَّى حدًّا أوسطَ، وموضوعُ المطلوب يُسمَّى حدًّا أصغرَ، ومحمولُ المطلوبِ يُسمَّى حدًّا أكبرَ، والمُقدِّمةُ التي فيها الأصغرُ تُسمَّى الصُّغرى، والتي فيها الأكبرُ تُسمَّى الكُبرى.

أَقُولُ: اعلمْ أنَّ المُشتركَ المُكرَّرَ بين مقدمةِ القياسِ فصاعداً يُسمَّى حدًّا أوسط، لتوسُّطه بين طرفي المطلوب سواء كان موضوعاً، أو محمولاً، أو مُقدَّماً، أو تالياً، وقد مَرَّ مثالُهما آنفاً، وموضوعُ المطلوبِ يُسمَّى حدًّا أصغرَ، لأنه أخصُّ في الأغلبِ، والأخصُّ أقلُّ أفراداً، فيكونُ أصغرَ، ومحمولُ المطلوبِ يُسمَّى حدًّا أكبرَ، لأنَّه أعمُّ في الأغلبِ، والأعمُّ أكثرُ أفراداً، فيكونُ أكبرَ، والمُقدِّمةُ من مُقدِّمات القياس التي فيها الأصغرُ تُسمَّى الصُّغرى، لاشتمالِها على الأصغرِ، فتكونُ ذاتَ الأصغر، وهذا ليس إلا معنى الصُّغرى، والمُقدِّمةُ التي فيها الأكبرُ تُسمَّى الكُبرى لاشتمالِها على الأكبر، فتكونُ ذاتَ الأكبر، وهذا ليس إلا معنى الكُبرى، واقترانُ الصُّغرى بالكُبرى في الإيجاب والسلب والكُلِّية والجُزئية يُسمَّى قرينةً وضَرباً، ولم يَذكر المُصنِّفُ هذا.

Ketahuilah bahwa bagian yang dimiliki bersama dan terulang di antara dua atau lebih disebut , karena ia berada di tengah (tawassuth) di antara kedua ujung kesimpulan yang dicari, baik ia berupa atau , maupun atau ; contoh keduanya baru saja disebutkan. Maudhu' kesimpulan yang dicari disebut (yang lebih kecil), karena biasanya ia lebih khusus, dan yang lebih khusus lebih sedikit satuannya, sehingga ia lebih kecil. Mahmul kesimpulan yang dicari disebut (yang lebih besar), karena biasanya ia lebih umum, dan yang lebih umum lebih banyak satuannya, sehingga ia lebih besar. Muqaddimah di antara muqaddimah-muqaddimah qiyas yang memuat hadd ashghar disebut , karena ia memuat hadd ashghar sehingga menjadi pemilik hadd ashghar, dan itulah persis makna shughra. Muqaddimah yang memuat hadd akbar disebut , karena ia memuat hadd akbar sehingga menjadi pemilik hadd akbar, dan itulah persis makna kubra. Gabungan shughra dengan kubra dalam dan , serta dalam dan , disebut qarinah dan ; pengarang tidak menyebutkan hal ini.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 65

Uji dirimu

3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.

  1. Soal 1

    Menurut al-Kātī, mengapa ta'rif qiyas mengatakan bahwa qiyas tersusun “dari beberapa pernyataan”, bukan “dari beberapa muqaddimah”?

  2. Soal 2

    “A sama dengan B, dan B sama dengan C”, maka A sama dengan C. Mengapa qiyas musawah (qiyas kesamaan) ini dikeluarkan oleh kata “dengan sendirinya”?

  3. Soal 3

    Apakah “Setiap manusia adalah benda mati, dan setiap benda mati adalah keledai” termasuk qiyas menurut al-Kātī?

Pelajaran berikutnya: Empat syakl

Lanjutkan →