Beranda / Jalur Utsmani · tingkat 2 / Pelajaran 15 dari 17

Terkunci

Qiyas istitsna'i

Kembali ke Tingkat 2

Pratinjau

Sekilas pelajaran 15 dari tingkat 2. Tingkat 2 terbuka setelah tingkat 1; sampai saat itu kamu bisa membaca pelajaran ini, tetapi ujinya dan jalan selanjutnya tetap tertutup.

Jalur Utsmani · tingkat 2 · Sharḥ Īsāghūjī · Pelajaran 15 dari 17

Draf · menunggu pemeriksaan

Qiyas istitsna'i

Qiyas · Matan 49–51

القِيَاس

Teks bahasa Arab menurut cetakan Beirut · terjemahan The Mantiqi, draf

Tentang teks ini

Sharḥ Īsāghūjī شَرْحُ إِيساغُوجِي

Ḥusām al-Dīn al-Kātī (d. ca. 760/1359)

Teks
Arab: Sharḥ matn al-Īsāghūjī fī al-manṭiq, with notes by Qāsim Naʿīm al-Ḥanafī (not reproduced), Dār al-Kutub al-ʿIlmiyya, Beirut Lihat pindaian
Terjemahan
Karya The Mantiqi sendiri; draf.
Tinjauan
Draf, menunggu tinjauan Ustadh Muhammad Yusuf.

Matan

وَأَمَّا الْقِيَاسُ الِاسْتِثْنَائِيُّ فَالشَّرْطِيَّةُ الْمَوْضُوعَةُ فِيهِ إِنْ كَانَتْ مُتَّصِلَةً، فَاسْتِثْنَاءُ عَيْنِ الْمُقَدَّمِ يُنْتِجُ عَيْنَ التَّالِي، كَقَوْلِنَا: إِنْ كَانَ هَذَا إِنْسَانًا فَهُوَ حَيَوَانٌ، لَكِنَّهُ إِنْسَانٌ، فَهُوَ حَيَوَانٌ.

Adapun : jika di dalamnya berupa , maka menetapkan menghasilkan , seperti “Jika ini manusia, maka ia hewan; tetapi ia manusia, maka ia hewan.”

Kalimat 49

وَاسْتِثْنَاءُ نَقِيضِ التَّالِي يُنْتِجُ نَقِيضَ الْمُقَدَّمِ، كَقَوْلِنَا: إِنْ كَانَ هَذَا إِنْسَانًا فَهُوَ حَيَوَانٌ، لَكِنَّهُ لَيْسَ بِحَيَوَانٍ، فَلَا يَكُونُ إِنْسَانًا؛

Dan menetapkan menghasilkan naqidh , seperti “Jika ini manusia, maka ia hewan; tetapi ia bukan hewan, maka ia bukan manusia.”

Kalimat 50

وَإِنْ كَانَتْ مُنْفَصِلَةً فَاسْتِثْنَاءُ عَيْنِ أَحَدِ الْجُزْءَيْنِ يُنْتِجُ نَقِيضَ التَّالِي، كَقَوْلِنَا: الْعَدَدُ إِمَّا زَوْجٌ أَوْ فَرْدٌ، لَكِنَّهُ زَوْجٌ، يُنْتِجُ: أَنَّهُ لَيْسَ بِفَرْدٍ، أَوْ لَكِنَّهُ فَرْدٌ، يُنْتِجُ: أَنَّهُ لَيْسَ بِزَوْجٍ، وَاسْتِثْنَاءُ نَقِيضِ أَحَدِهِمَا يُنْتِجُ عَيْنَ الثَّانِي.

Jika ia berupa , maka menetapkan salah satu dari kedua bagiannya menghasilkan bagian yang lain, seperti “Bilangan itu adakalanya genap, adakalanya ganjil; tetapi ia genap”, yang menghasilkan “Ia tidak ganjil”; atau “tetapi ia ganjil”, yang menghasilkan “Ia tidak genap.” Dan menetapkan naqidh salah satunya menghasilkan bagian yang lain.

Kalimat 51

Syarah Ḥusām al-Dīn al-Kātī

قالَ: وأَمَّا القياسُ الاستثنائيُّ: فالشرطيةُ الموضوعةُ فيه إن كانت متصلةً موجبةً لزوميةً، فاستثناءُ عينِ المقدَّمِ يُنتِجُ عينَ التالي كقولنا: إن كان هذا إنساناً فهو حيوانٌ لكنَّهُ إنسانٌ فهو حيوانٌ، واستثناءُ نقيضِ التالي يُنتِجُ نقيضَ المُقدَّمِ كقولنا: إن كانت الشمسُ طالعةً فالنهارُ موجودٌ لكنَّ النَّهارَ ليسَ بموجودٍ فالشمسُ ليست بطالعةٍ، وإن كانت منفصلةً حقيقيةً، فاستثناءُ عينِ أحدِ الجُزئيين يُنتِجُ نقيضَ الآخر، واستثناءُ نقيضِ أحدِهما يُنتِجُ عينَ الآخرِ.

أَقُولُ: لمَّا فرغَ المصنِّفُ من بيانِ القياسِ الاقتراني شرعَ في بيان القياس الاستثنائيِّ، فنقولُ: القياسُ الاستثنائيُّ مركَّبٌ دائماً من مُقدِّمتين أحدهما شرطية، والأخرى وضعُ أحدِ جُزئيها أي إثباتُهُ، أو رفعُهُ، ليلزمَ وضعُ الجزءِ الأخرِ إثباتَهُ، أو رفعَهُ سواءٌ كانتْ متصلةً أو منفصلةً، أَمَّا إن كانت متصلةً، فكقولنا: إن كانت الشمسُ طالعةً فالنهارُ موجودٌ لكنَّ الشمسَ طالعةٌ، ينتجُ أنَّ النهارَ موجودٌ، ولو قلنا: لكنَّ النهارَ ليس بموجودٍ، ينتجُ: أنَّ الشمسَ ليست بطالعةٍ، وإن كانت منفصلةً فكقولنا: دائماً إما أن يكون العددُ زوجاً أو فرداً لكنَّ هذا العددَ زوجٌ، ينتجُ أنه ليس بفردٍ، ولو قلنا: لكنَّهُ ليسَ بزوجٍ، ينتجُ أنه فردٌ، وإذا عرفتَ هذا فنقول: الشَّرطيةُ الموضوعةُ في القياس الاستثنائيِّ إن كانت متصلةً، فاستثناءُ عينِ المُقدَّمِ يُنتِجُ عينَ التالي، وإلا لزمَ انفكاكُ اللازمِ عن الملزومِ فيبطلُ الملازمةُ، واستثناءُ نقيضِ التالي ينتجُ نقيضَ المقدمِ، وإلا لزم وجودُ الملزومِ بدون اللازمِ، فيبطلُ الملازمةُ أيضاً كما رأيتَهُ في المثالِ الأول، وإن كانت الشرطيةُ الموضوعةُ في القياس الاستثنائيِّ منفصلةً، فاستثناءُ عينِ أحدِ الجزئين سواءٌ كان مقدّماً أو تالياً، ينتجُ نقيضَ الآخرِ لامتناع الجمع بينهما، واستثناءُ نقيضِ أحدهما أي أحدِ الجزئين كذلك ينتجُ عينَ الآخرِ، لامتناع الخُلو بينهما كما رأيته في المثال الثاني، فعليك بالتأمل في المثالين المذكورين، هذا إذا كانت المنفصلةُ حقيقيةً، وإن شئتَ أن تُدرِكَ البحثَ بكمالهِ في المنفصلات فارجع إلى الرسائلِ المطوَّلة.

Setelah pengarang selesai menjelaskan , ia mulai menjelaskan . Maka kami katakan: qiyas istitsna'i selalu tersusun dari dua . Salah satunya ; yang lain adalah (peletakan) salah satu dari kedua bagiannya, yakni menetapkannya, atau raf' (pengangkatan)-nya, yakni meniadakannya, sehingga penetapan bagian yang lain atau peniadaannya, baik [syarthiyyah itu] maupun . Jika ia muttashilah, contohnya ucapan kita: “Jika matahari telah terbit, maka hari telah siang; tetapi matahari telah terbit”, yang menghasilkan bahwa hari telah siang; dan jika kita berkata “tetapi hari belum siang”, ia menghasilkan bahwa matahari belum terbit. Jika ia munfashilah, contohnya ucapan kita: “Selalu, bilangan itu adakalanya genap, adakalanya ganjil; tetapi bilangan ini genap”, yang menghasilkan bahwa ia tidak ganjil; dan jika kita berkata “tetapi ia tidak genap”, ia menghasilkan bahwa ia ganjil. Jika engkau telah mengetahui ini, kami katakan: jika syarthiyyah yang diletakkan dalam qiyas istitsna'i itu muttashilah, maka menetapkan (istitsna' 'ain al-muqaddam) menghasilkan ; jika tidak, yang dilazimkan (lazim) akan terlepas dari yang melazimkannya (malzum), sehingga kelaziman itu batal. Dan menetapkan tali menghasilkan naqidh muqaddam; jika tidak, malzum akan ada tanpa lazim, sehingga kelaziman itu juga batal, seperti telah engkau lihat dalam contoh pertama. Jika syarthiyyah yang diletakkan dalam qiyas istitsna'i itu munfashilah, maka menetapkan salah satu dari kedua bagiannya, baik muqaddam maupun tali, menghasilkan naqidh bagian yang lain, karena keduanya tidak mungkin berkumpul. Dan menetapkan naqidh salah satunya, yakni salah satu dari kedua bagian, demikian pula menghasilkan bagian yang lain, karena keduanya tidak mungkin sama-sama tidak ada, seperti telah engkau lihat dalam contoh kedua. Maka renungkanlah baik-baik kedua contoh tersebut. Ini berlaku jika munfashilah itu haqiqiyyah; jika engkau ingin memahami pembahasan munfashilah secara lengkap, rujuklah risalah-risalah yang panjang.

Sharḥ Īsāghūjī · hlm. 72

Uji dirimu

3 soal tentang apa yang dijelaskan syarah. Dengan nilai 6 dari 10 atau lebih (dua bintang), pelajaran berikutnya terbuka.

  1. Soal 1

    Menurut al-Kātī, dari apa qiyas istitsna'i selalu tersusun?

  2. Soal 2

    Menurut al-Kātī, mengapa menetapkan muqaddam dalam muttashilah menghasilkan tali?

  3. Soal 3

    Al-Kātī berkata bahwa dalam munfashilah, menetapkan salah satu bagiannya menghasilkan naqidh bagian yang lain, dan menetapkan naqidh salah satunya menghasilkan bagian yang lain. Untuk munfashilah macam apa hal ini berlaku menurutnya?

Pelajaran berikutnya: Burhan dan yaqiniyyat

Lanjutkan →